Foto/Ist

Pada era Kesultanan Iskandar Muda, Aceh merupakan daerah yang sangat berjaya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi saat ini dimana kemiskinan menjadi sebuah persoalan yang ironi terjadi di ‘bumi rencong’.

Hal itu disampaikan oleh peniliti sejarah Aceh Mawardi Umar MA dalam seminar Keacehan bertema ‘Kearifan Masa Lalu Kejayaan Masa Depan’, di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Sabtu (15/2).

“Aceh pernah menjadi salah satu kesultanan Islam yang paling sukses di Nusantara, baik di bidang politik, ekonomi dan intelektual,” kata Mawardi Umar MA.

Menurut Mawardi Umar, pada abad ke 17, Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi terkuat di bagian barat Nusantara yang mampu membendung perkembangan kolonial Portugis.

“Keunggulan yang dimiliki Aceh tersebut perlahan mengalami kemunduran yang diawali masuknya kolonial Belanda hingga terjadi pelawanan puluhan tahun. Hampir seluruh infrastruktur ekonomi hancur dan sosial budaya mengalami kemunduran,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan staf pengajar Ilmu Sejarah Universitas Syiah Kuala, Qismullah Yusuf. Menurutnya, Aceh masa lampau juga telah melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara di Eropa seperti Inggris, Turki, dan Belanda.

“Pada Abad 16-17, Kesulatanan Aceh mengirim empat orang utusannya ke Belanda yang dipimpin Tuanku Abdul Hamid untuk mengakui kedaulatan Belanda setelah bebas dari Spanyol. Akhirnya, pada 10 Agustus 1602, Tuanku Abdul Hamidi meninggal di Amsterdam,” sebut Qismullah Yusuf.

Sementara itu, peneliti Tsunami Mitigation Reserch Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Alfi Rahman menyebutkan, keruntuhan kejayaan Aceh selain akibat masuknya kolonialisme Belanda, juga karena faktor bencana alam gempa dan tsunami. Hasil penelitian di gua Ek Leuntie, Aceh Besar, peneliti menemukan bahwa tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 silam bukan yang pertama kalinya terjadi. Tsunami pernah terjadi di Aceh ratusan tahun sebelumnya. Seperti di Kepulauan Simeulue, pengetahuan masyarakat lokal menyebutkan tsunami dengan istilah Smong.

“Kisah Smong atau tsunami dikisahkan lewat budaya lokal masyarakat Simeulue yang disebut nafi-nafi atau cerita tutur tentang kisah masa lalu yang hingga kini masih dilestarikan,” jelasnya.

Diharapkan dengan bercermin dari kejadian masa lalu, Aceh ke depan bisa bangkit untuk mengembalikan kejayaan di masa mendatang. Kejayaan tersebut tidak terlepas dari sejarah dan budaya serta kearifan lokal yang harus tetap dilesatarikan.

Adapun seminar tersebut digelar oleh Universitas Syiah Kuala bersama Yayasan Sukma Bangsa dan Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh yang menjadi bagian pre-event Kenduri Kebangsaan 2020 yang akan berlangsung di Kabupaten Bireuen, Aceh, dan juga dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Seminar diisi oleh para pemateri yang merupakan pakar sejarah dan akademisi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yaitu DR Qismullah Yusuf, Mawardi Umar MA, DR Syaifullah Muhammad dan DR Alfi Rahman.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here