Gajah Botswana tewas/Net

Para ahli menyebutkan kematian sekitar 300 gajah di Okavango Delta Botswana bukan karena antraks maupun karena perburuan liar. Hal ini menjadi salah satu kesimpulan mereka karena gading dari para gajah tersebut ditemukan utuh.

Pemimpin Departemen Margasatwa dan Taman, Cyril Taolo mengatakan tes pendahuluan yang dilakukan di berbagai negara sejauh ini belum sepenuhnya sampai pada kesimpulan akhir. “Sampai saat ini kami belum menetapkan kesimpulan tentang apa penyebab kematian”. “Sampai saat ini kami belum menetapkan kesimpulan tentang apa penyebab kematian. Tetapi berdasarkan beberapa hasil awal yang kami terima, kami melihat racun yang terjadi secara alami sebagai penyebab potensial,” katanya, seperti dikutip dari AFP, Jumat (31/7).

Dia menjelaskan bahwa beberapa bakteri secara alami dapat menghasilkan racun, terutama yang berada dalam air yang tergenang. Pemerintah sejauh ini menetapkan bahwa ada 281 gajah mati, walaupun para konservasionis independen mengatakan jumlahnya lebih dari 350 ekor. Kematian tersebut pertama kali dilaporkan oleh badan amal konservasi satwa liar, Elephants Without Borders (EWB), yang bocor ke media dan mencatat ada 356 gajah yang mati secara misterius.

Beberapa gajah hidup tampak lemah, lesu dan kurus, dengan beberapa menunjukkan tanda-tanda disorientasi, kesulitan berjalan atau pincang, kata EWB. Hingga saat ini tes lebih lanjut sedang dilakukan di laboratorium spesialis di Afrika Selatan, Kanada, Zimbabwe dan AS.

Negara Afrika selatan yang terkurung daratan itu memiliki populasi gajah terbesar di dunia, diperkirakan jumlahnya sekitar 130 ribu populasi. Sekitar 300 dari mereka ditemukan sekarat sejak Maret lalu.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here