Alim Nur Nasution/RMOLSumut

Kontribusi dari seluruh elemen masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk melahirkan sosok pemimpin terbaik di Kota Medan. Hal ini karena keberhasilan pembangunan ditengah masyarakat sangat ditentukan oleh keberhasilan seorang pemimpin.

Demikian disampaikan Sekretaris DPW Al Washliyah Sumatera Utara, Alim Nur Nasution dalam Forum Grup Diskusi (FGD) “Kota Medan Butuh Pemimpin Seperti Apa?” di Sekretariat Al Washliyah Sumatera Utara, Jalan SM Raja, Medan, Selasa (28/7).

FGD ini menghadirkan narasumber antara lain Direktur Rumah Konstituen Eko Marhendy, tokoh pemuda Sugiat Santoso, Ketua PW HIMMAH Sumut dan dimoderatori oleh Ketua PC Himmah Kota Medan Ilham Fauzi Munthe.

“Ingat Imam Al Ghazali mengatakan kerusakan rakyat disebabkan kerusakan penguasanya, kerusakan penguasanya disebabkan oleh kerusakan ulama atau cendikiawan dan kerusakan ulama itu disebabkan cinta terhadap dunia dan harta,” katanya.

Secara khusus di Kota Medan kata Alim, seorang pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang jujur agar menjadi teladan. Kasus hukum yang menimpa 3 Walikota di Medan secara berturut-turut menurutnya menjadi cerminan betapa kejujuran sangat mahal harganya di Kota Medan.

“Kita harus rasional dalam memilih pemimpin. Saya kira kita sekarang perlu pemimpin yang berani merubah pola-pola kepemimpinan yang tidak kaku lagi. Strong leader sangat dibutuhkan agar pemimpin tidak lagi jadi bulan-bulanan, yang berani mengambil keputusan dalam kondisi apapun,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan pembicara lainnya, Ketua PW Himmah Sumut Abdul Razak. Selaku kaum muda, ia berharap pemimpin di Kota Medan memiliki sosok muda agar mampu memberikan perubahan yang baru di Kota Medan.

“Menurut saya ada 3 hal yang dimiliki pemimpin yang dibutuhkan di Medan yaitu muda, mampu komunikasi ke semua kalangan dan memiliki akses hingga ke pusat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Konstituen Eko Marhendy yang juga menjadi pembicara menyebutkan. Munculnya sosok-sosok pemimpin yang pada akhirnya tidak mampu membawa perubahan di Kota Medan disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang bersifat pragmatis. Mereka masih kerap menjadikan politik identitas sebagai salah satu tolak ukur dalam menentukan pilihan, tanpa melihat ide dan gagasan untuk membangun Kota Medan sebagai hal yang paling utama.

“Namun untuk Pilkada Medan 2020 ini saya kira politik identitas maupun yang berkaitan dengan SARA itu tidak akan muncul, karena sejauh ini kita lihat masih sama-sama Nasution, sama-sama Islam. Sehingga sudah saatnya melihat ide dan gagasan sebagai hal yang menjadi variabel untuk menentukan pilihan,” ungkapnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here