Foto/Ist

ISTILAH TAVIP mengiringi generasi yang lahir ditahun 1960-an. Istilah itu berasal dari pidato Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Indonesia, Paduka Yang Mulia Ir. Soekarno yang disampaikan pada HUT RI ke-19, 17 Agustus 1964.

Dimana di tahun itu, PBR Bung Karno menjelaskan arah revolusi Indonesia di tengah guncangan hebat dan tekanan perang dingin serta aktivitas kontra revolusioner di dalam negeri yang berimplikasi pada sosio-politik dan ekonomi.

Pidato PBR Bung Karno yang berjudul TAVIP(Tahun Vivere Pericoloso) menekankan kepada kewaspadaan terhadap ancaman penjajahan kolonialisme baru (nekolim).

Begitu hebatnya pidato dan warning PBR Bung Karno itu sehingga menginspirasi Hollywood untuk memproduksi film The Year of Living Dangerously dan dibintangi Mel Gibson serta Sigourney Weaver.

TAVIP adalah gambaran mengenai situasi yang akan dihadapi Indonesia di sepanjang tahun-tahun yang penuh ancaman pada awal tahun 1960an.

Mengisahkan petualangan seorang pewarta dari Australia, The Year of Living Dangerously menggambarkan suasana Indonesia pasca peristiwa 1 Oktober 1965, setahun setelah pidato TAVIP dibacakan PBR Bung Karno.

Di Indonesia, tahun menyerempet bahaya itu (Vivere pericoloso berasal dari bahasa latin yang berarti menyerempet bahaya, pen), juga dijadikan monumen. Di Kota Binjai, TAVIP diabadikan untuk nama sebuah pasar rakyat, terbesar yang konon memang sudah ramai sebelum meletusnya peristiwa 1965.

Pasar TAVIP atau yang juga populer dengan sebutan Pajak Bawah, terletak di bantaran Sungai Bingai, Binjai Kota. Letaknya yang berada persis di benteng salah satu sungai besar yang mengaliri Kota Binjai, menguatkan kisah, bahwa Binjai sejak dahulu memang menjadi urat nadi, tempat transit dan pertemuan berbagai kelompok yang berniaga. Ke atas, Sungai Bingai bermula dari Sungai Biang (Lau Biang) sedangkan ke bawah, Sungai itu bergabung menjadi Sungai Wampu dan bermuara ke lautan di pesisir pantai timur.

Aktivitas perniagaan begitu padat. Pasar TAVIP pada masanya menjadi tempat pertemuan, orang yang hidup di dataran tinggi Karo dengan penduduk pesisir pantai timur.

Eskalasi pertukaran budaya dan pengetahuan pun tinggi, sehingga Binjai menjadi melting pot dan persenyawaan aneka kebudayaan. Pasar TAVIP menjadi simbol keberagaman di Kota Binjai.

Tahun 1960 menjadi tahun yang penting bagi sejarah perkembangan Indonesia. Termasuk Kota Binjai yang sejak masa pergerakan sudah dihuni para pemikir dan pejuang hebat.

Sejumlah tokoh nasional pun pernah lahir dan menjejakkan kaki di Kota Binjai, diantaranya Hamzah bersaudara, Amir Hamzah dan Amal Hamzah, serta seorang pejuang muda, yang kelak ditahbiskan sebagai Pahlawan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), Zainal Zakse.

Amir Hamzah yang merupakan perwakilan pemerintah Indonesia untuk Sumatera Timur pernah bertugas di Binjai. Adapun adiknya, Amal Hamzah, adalah penyair yang juga memiliki kecerdasan Amir Hamzah. Kedua pemikir dan intelektual muda itu memberikan warna warni yang indah bagi pertumbuhan dan laju pemikiran di Kota Binjai. Keduanya dikenal sebagai tokoh di awal-awal kemerdekaan dan bahkan Amir Hamzah menjadi tumbal revolusi Indonesia di saat usia republik baru setahun.

Adapun Zainal Zakse, pemuda potensial harapan Binjai dimasanya adalah sedikit dari tokoh muda di Jakarta yang vokal dan rajin mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Zainal Zakse lahir di kampung Bonjol, 4 Januari 1938. Semangat muda mengantarkan kakinya menyeberangi samudra dan wafat di Pulau Jawa.

Melalui rekaman ingatan sang adik Irwansyah alias Wak Ong yang merupakan aktivis anti narkoba, Zainal Zakse kecil dikenal sebagai Enang.

Enang adalah wartawan di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)

Aktif di Pergerakan Pemuda Sosialis, tahun 1959, Enang ikut dalam delegasi Sumatera Utara ke Kongres Pemuda. Setelah kongres berakhir, Enang sempat ingin tinggal di Bandung. Namun angin membawanya tiba di Jakarta dan masuk Fakultas Sejarah Universitas Indonesia. Di tempat itulah, Enang yang dikenal kawan-kawannya di Binjai, tenar sebagai Zainal Zakse.

“Zakse itu singkatan. Z itu Zainal, A itu Abidin, K itu Katung, nama ayah kami. S itu Sikumbang, marga kami dan E itu Enang,” kata Wak Ong seperti dilansir Medanbagus.com, (Minggu, 4/9/2016).

Pada tanggal 1 Oktober 1966 para mahasiswa memperingati gugurnya Pahlawan Revolusi dengan memancangkan lukisan para pahlawan itu di muka Istana. Namun, keesokan harinya lukisan-lukisan itu disingkirkan oleh pasukan pengawal istana. Tentu saja tindakan pengawal istana itu menyinggung perasaan para mahasiswa. Mereka kemudian mencoba masuk ke lapangan sekitar Monumen Nasional untuk meminta kembali lukisan para pahlawan Revolusi. Akan tetapi suasana berubah menjadi panas.

Pasukan pengawal Istana mengejar-kejar para demonstran dan bahkan di beberapa tempat terjadi tindakan kekerasan.

Bentrokan juga terjadi di gedung RRI. Para mahasiswa dikejar-kejar termasuk orang-orang yang ada disekitarnya. Saat itulah, Enang, aktivis yang sekaligus wartawan itu disudutkan ke pagar besi di dekat RRI oleh beberapa anggota pasukan pengawal istana.

Walaupun sudah menjelaskan bahwa ia adalah wartawan, tetapi Enang tetap saja dihantam popor senjata yang beralaskan besi dan ditusuk dengan sangkur.

Menurut kisah yang didapat Wak Ong, abangnya kemudian dilarikan ke RS Bersalin Budi Kemuliaan, kemudian ke RS Cipto Mangunkusumo. Setelah itu diterbangkan ke negeri Belanda untuk upaya penyembuhan. namun agaknya, di Belanda lah si Enang telah berjanji untuk menutup matanya.

Peristiwa ditahun 1966 dan upaya pelengseran pemerintahan yang sah dikala itu merupakan bagian dari peringatan yang pernah disampaikan PBR Bung Karno lewat TAVIP.

Mengenang peristiwa itu, Binjai mengabadikan judul pidato Presiden RI pertama itu sebagai nama lokasi tempat para pejuang hebat lahir.

Dan satu jalan menuju Pasar TAVIP diabadikan pula nama pemuda hebat dimasanya. Mewakili generasi “die hard”, kritis dan dinamis. Nama jalan itu, Zainal Zakse.

Narasi TAVIP dan Zainal Zakse kemudian buram dan menghilang dari ingatan kolektif masyarakat Binjai yang terus dipadati pendatang. Kisah Tahun-tahun berbahaya, angkatan muda yang perkasa, kikis dimamah masa.

1 KOMENTAR

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here