CORONAVIRUS atau juga disebut virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.

Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya. Dan beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti: (1) Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV); (2) Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV); (3) Pneumonia. Tercatat korban tewas sampai dengan (20/2) tembus 2.123 jiwa di seluruh dunia. Coronavirus dikenal tersebar pertama sekali di Wuhan, China dan telah menjadi gawat darurat dinyatakan WHO pada akhir Januari lalu. WHO menyebut virus ini dengan nama Covid-19 singkatan dari Coronavirus 2019.

Penyebaran Coronavirus ini tentu memberi dampak aktivitas perdagangan internasional. Layaknya kota mati, Wuhan lumpuh aktivitas ekonomi sebab orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah menghindari penyebaran virus selain ramainya juga rumah sakit.
Indonesia sebagai mitra dagang Tiongkok selama ini mengimpor bahan baku juga barang jadi menghentikan sementara aktivitas tersebut. Pun barang-barang ekspor tertahan untuk didistribusikan ke negara dimaksud. Seperti halnya pemenuhan kebutuhan, aktivitas ekonomi dalam sehari menuntut perputaran yang signifikan terhadap harga-harga di pasar yang berujung pada keuntungan dan atau kerugian. Dengan berhenti sementara aktivitas jual beli akan merugikan Indonesia dan Tiongkok. Isu negatif penyebaran Coronavirus di pasar global cukup mempengaruhi perekonomian global pula. Apa yang dilakukan Indonesia sebagai pencegahan sehingga aktivitas ekonomi juga tetap berjalan sesuai target pertumbuhan? Diantaranya pemerintah memberhentikan sementara hewan impor dari Tiongkok sebab yang kita ketahui virus berasal dari hewan. Isu Coronavirus menciptakan kepanikan pasar global. Lebih tepatnya orang-orang juga menghindari bepergian ke luar negeri sampai diperkirakan Covid-19 berakhir di April 2020 .

Efek Coronavirus mengkhawatirkan produktivitas ekspor Indonesia. Memang pada kenyataannya sekarang pertumbuhan ekonomi masih disumbang besar oleh konsumsi domestik. Dalam Triwulan I 2020 ini belum terlihat signifikan penurunan produktivitas ekspor kita namun paling tidak nantinya akan berpengaruh pada periode mendatang sehingga menggeser angka neraca dagang Indonesia.

Indonesia masih pada tahap mengekspor bahan baku kebanyakan di pasar internasional yang memberikan pendapatan rendah, komoditas yang paling sering diekspor Indonesia ke Tiongkok seperti bahan bakar mineral dan produk distilasinya; lemak dan minyak dari hewan maupun tumbuhan; besi dan baja; bijih, ampas dan debu; bubur kayu, sisa atau scrap dari kertas (termasuk kertas karton) sedangkan apabila mengekspor barang setengah jadi dan barang jadi jauh memberikan return tinggi. Oleh karena masih banyak mengekspor bahan baku, fenomena global Coronavirus menjadi sensitif terhadap keuntungan ekspor Indonesia dalam beberapa bulan ke depan selama 2020 ini.

Diketahui data total ekspor Indonesia pada tahun 2018 mencapai US$ 180,06 miliar dimana Tiongkok berada pada posisi pertama sebagai mitra dagang sedangkan Amerika Serikat (AS) berada di posisi ketiga sebagai negara importir. Hadirnya jalur sutra Tiongkok semakin mempermudah mereka melakukan perdagangan antar negara termasuk pada Indonesia yang tentu mempengaruhi produktivitas ekspor.

Coronavirus memang menjadikan sensitif terhadap kinerja ekspor Indonesia ke Tiongkok namun tetap menjadi harapan bahwa produktivitas ekspor impor tetap berjalan kembali seperti halnya memberikan isu dan iklim positif terhadap aktivitas perdagangan negara lain ke Tiongkok.

*Dewi Mahrani Rangkuty, S.E., M.Si
(Dosen Prodi EP UNPAB Medan)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here