Foto/Net

Oleh: Dewi Mahrani Rangkuty, S.E., M.Si
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan

TINGKAT konsumsi yang disebut juga pengeluaran konsumsi merupakan kegiatan membelanjakan dan merasakan nilai guna daripada suatu barang dan jasa. Pelaku ekonomi terdiri dari individu, rumah tangga, perusahaan dan pemerintah. Pengeluaran konsumsi individu adalah bagian daripada pendapatannya yang dibelanjakan. Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah bagian daripada pendapatan rumah tangga yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tersebut. Sama halnya dengan perusahaan dan pemerintah sebagai pengelola keuangan negara.

Dalam hal ini, saya menggunakan data konsumsi agregat 2 negara yakni Indonesia sebagai negara berkembang dan Amerika sebagai negara maju. Konsumsi agregat meliputi jumlah pengeluaran konsumsi keseluruhan terhadap pilihan semua barang dan jasa oleh si pelaku ekonomi di kedua negara tersebut. Dimana pertumbuhan ekonomi, bunga utang dan impor sebagai variabel lain sebagai indikator dalam menghitung elastisitas.

Berbicara tentang barang dan jasa tidak terlepas dari harga di pasar yang berkaitan erat dengan inflasi. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu (Bank Indonesia, 2019).

Oleh sebab itu, 7 kelompok pengeluaran berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) diantaranya:
(1) bahan makanan;
(2) makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau;
(3) perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; (4) sandang;
(5) kesehatan;
(6) pendidikan, rekreasi, dan olahraga;
(7) transpor, komunikasi, dan jasa keuangan.

Kelompok barang ini yang menjadi indikator daripada tingkat konsumsi agregat.
Hasil penelitian yang saya lakukan mengambil data makroekonomi bersumber dari world bank dengan time series 1987-2017, menunjukkan terjadi elastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Artinya terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terjadi inelastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan bunga utang Indonesia.

Artinya tidak terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan bunga utang di Indonesia. Dan terjadi inelastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan impor Indonesia.

Artinya tidak terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan impor di Indonesia.

Di negara Amerika, terjadi elastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan pertumbuhan ekonomi Amerika. Artinya terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di Amerika. Terjadi elastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan bunga utang Amerika. Artinya terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan bunga utang di Amerika. Dan terjadi pula elastisitas antar persentase perubahan tingkat konsumsi yang disebabkan oleh persentase perubahan impor Amerika.

Artinya terjadi perbandingan perubahan proporsional antar variabel tingkat konsumsi dan impor di Amerika.

Secara teori, konsumsi (C) merupakan komponen daripada pertumbuhan ekonomi (Y) suatu negara. Pun halnya ekspor (X) setelah dikurangi dengan impor (M) atau disebut juga dengan net ekspor (NX). Dan keduanya memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu negara.

Sedangkan bunga utang merupakan beban yang timbul akibat kewajiban sebagai sumber daya eksternal modal pembangunan di suatu negara. Di Indonesia, elastisitas hanya terjadi antar variabel tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan di Amerika, elastisitas terjadi antar variabel tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Tingkat konsumsi dan bunga utang. Juga tingkat konsumsi dan impor di negara tersebut. Komparasi ini terlihat bahwa di negara maju seperti Amerika elastisitas antar variabel ekonomi cenderung terjadi dibandingkan negara berkembang seperti Indonesia.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here