Spekulasi pernyataan Gubsu Edy Rahmayadi perihal Festival Danau Toba (FDT) menuai banyak kritik. Pernyataan yang dianggap terlalu dini untuk disampaikan mungkin akan menjadi tolak ukur keseriusan pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam mensukseskan FDT sesuai dengan tujuan utamanya.

Tidak menarik atau banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui adanya acara tersebut mungkin pemicu minimnya pengunjung yang menjadi alasan Edy untuk merubah konsep dan mengevaluasi FDT.

Pada pembukaan FDT ke-7 tahun 2019 Edy meminta FDT untuk dievaluasi dan menjadikan FDT benar-benar Festival. Edy katakan akan undang seluruh dunia datang ke Festival Danau Toba, agar angka kunjungan ke danau terbesar di Asia Tenggara itu terus meningkat.

Sampai hari ini saya tidak tahu apakah pihak terkait telah melakukan evaluasi serius yang pernah diperintahkan Edy.

Untuk itu, saya pikir butuh kreativitas pemerintah dalam mendesign dan merencanakan FDT agar mampu menarik wisatawan lokal bahkan mancanegara. Bahkan, waktu yang tepat harusnya menjadi pertimbangan untuk pelaksanaan event tahunan tersebut.

Selain melakukan promosi besar-besaran sampai ke negara-negara di luar Indonesia, tentu minat wisatawan serta musim libur negara lain harusnya menjadi pertimbangan penting. Lantas apa salahnya jika FDT diadakan diantara pertengahan juni sampai akhir agustus yang merupakan liburan panjang di negara-negara Eropa sekitar.

Catatan penting lainnya saya pikir, jika FDT hanya mengandalkan keindahan Alam, tentunya masih banyak keindahan-keindahan alam lainnya yang mungkin lebih menarik. Untuk itu, apa yang mau diunggulkan oleh pemerintah dalam event tersebut.

Dan saya pikir pemerintah tidak perlu malu untuk melibatkan lembaga-lembaga Event Organizer (EO) yang profesional dan kompeten untuk menangani kegiatan penting tersebut.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here