Hanya 7 dari 33 perwakilan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang aktif saat ini menangani penanggulangan HIV/AIDS di Sumatera Utara (Sumut). Berdasarkan catatan KPA, hingga Agustus 2019 sebanyak 9.362 orang tercatat HIV/AIDS (ODHA).

Kepala Sekretariat KPA Sumut, Achmad Ramadhan mengatakan bahwa ketujuh KPA yang aktif itu yaitu, Medan, Deliserdang, Simalungun, Siantar, Tobasa, Labuhan Batu, dan Tanjung Balai.

“Sementara KPA yang tidak aktif, yakni, Sergai, Langkat, Nias, Gunung Sitoli, Karo, Asahan, Tebing Tinggi, Samosir, Labura, Madina, Humbahas, Tapteng, Sibolga, Padang Sidimpuan, Nias Selatan, Nias Utara. Serta yang belum terbentuk ialah, Binjai, Nias Barat, Paluta, Pakpak Bharat, Tapsel, Labusel, Dairi, Batubara, dan Palas,” katanya.

Ramadhan menyebutkan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Sumut, pihaknya memang menghadapi beberapa kendala, di antaranya belum semua kabupaten/kota membentuk KPA sebagai lembaga koordinasi dalam penanggulangan.

“Selain itu, KPA provinsi dan kabupaten/kota yang aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS masih belum memiliki anggaran yang cukup. Jadi, yang aktif saja belum maksimal karena minimnya anggaran apalagi yang sama sekali tidak dialokasikan anggarannya,” sebutnya.

Menurut Ramadhan koordinasi penanggulangan juga masih belum berjalan dengan baik. Padahal, pihak KPA sudah bertemu langsung dengan pimpinan kepala daerah kabupaten/kota yang belum ada perwakilan KPA nya.

Ramadhan berharap adanya kepedulian dari pimpinan kabupaten/kota yang belum ada perwakilan maupun KPA nya tidak aktif. Sebab, persoalan HIV/AIDS ini merupakan tanggung jawab bersama.

“Ada juga kendala lainnya mengenai koordinasi di internal intansi pemerintah kabupaten/kota. Mereka ada yang menganggap persoalan HIV/AIDS merupakan ranahnya Dinas Kesehatan, tapi ada juga yang menganggap ranah Dinas Sosial. Artinya, mereka belum sejalan, padahal ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Ramadhan menyebut kendala-kendala yang sudah dijelaskan sangat perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, baik jajaran pemerintahan maupun masyarakat secara komprehensif. Untuk itu, momentum peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) pada 1 Desember kemarin hendaknya mendorong semuanya untuk menghindari faktor risiko penularan dan memberanikan diri guna mengetahui status HIV-nya.

“Hal ini demi mendapatkan treatment yang lebih dini, sehingga penularan dapat ditanggulangi lebih cepat dan kehidupan sosial pun akan berjalan dengan normal,” katanya.

Untuk diketahui bahwa dari jumlah 9.362 ODHA di Sumut, Kota Medan merupakan daerah paling tinggi dengan 5.272 ODHA, dengan rincian 2.249 HIV dan 3.023 AIDS yang diikuti Deliserdang, Karo, Pematang Siantar, dan Tobasa.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here