Putrama Alkhairi/RMOLSumut

Mantan Direktur Utama (Dirut) PD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Medan, Putrama Alkhairi mengatakan permasalahan dunia baru-baru ini seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit dan virus Corona di China bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memajukan dan menguatkan perekonomian.

“Jadikan tantangan jadi peluang. Bagaimana masalah dunia ini, masalah Inggris keluar dari Brexit, China dengan virus Corona justru kemudian melahirkan kekuatan ekonomi kita. Kan terganggu nih. Cobalah ini momentum untuk membangkitkan. Konsolidasikan lah ekonomi kita meskipun skala kecil, contohnya kota kita ini. Bagaimana faktor-faktor ekonomi luar itu jadi kekuatan bukan kelemahan. Bagaimana memformulasikan itu,” katanya kepada Kantor Berita RMOLSumut, Selasa (4/2).

Menurut Putrama, persoalan ekonomi yang harusnya bisa dicari solusi adalah persoalan impor. Sebagai mantan Dirut PD RPH, Putrama memberi contoh persoalan lembu impor yang pernah dihadapinya.

“Saya contohkan, kan saya mantan Dirut RPH. Ini ada lembu dari Australia, lembu ini dibawa ke Medan menggunakan kapal laut. Di sana yang mendampingi lembu ini sejumlah dokter hewan. Ketika dibawa lembu ini ada yang patah kaki, ada yang mati, Vitaminnya diberikan segala macam. Banyak menghabiskan biaya,” paparnya.

“Kemudian sampai di Belawan lembu-lembu ini dikarantina. Biaya karantina luar biasa besar. Masuklah lembu ini ke RPH. Lembu kita makannya rumput, bebas-bebas gitu, gak pakai kapal, gak pakai apa-apa masuk ke RPH. Harganya lebih murah lembu Australia tiga kali lipat dibandingkan lembu kita,” sambungnya.

Menurut Putrama, hal ini menjadi persoalan bagi peternak Indonesia, yang sudah bersusah payah mengeluarkan biaya produksi yang besar. Hasil ternak luar negeri malah dihargai lebih murah di Indonesia daripada hasil ternak dalam negeri.

Lanjut Putrama, sama halnya dengan yang dialami petani Indonesia dimana barang impor hasil pertanian sering dihargai lebih murah.

“Petani, peternak itu sekarang biaya produksinya, biaya pakannya, biaya ini itu besar. Kalau ini dihadapkan ke pasar, kalah petaninya. Maka lama-lama orang meninggalkan pertanian, meninggalkan peternakan. Karena ada yang lebih instan. Nah ketika itu kan pemerintah ditekan,” ujarnya.

Putrama mengatakan tekanan pertama harga barang murah. Hal ini menurutnya membuat petani dan peternak ‘mati’.

“Itu harus dikelola. Situasi itulah yang memang harus dibutuhkan ada jangka pendek. Ada yang instan, ketika kita bilang murah instan,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal ini, Putrama mengatakan yang dibutuhkan adalah leader yang benar-benar bisa mengeksekusi. Lanjut Putrama, kalau ada program, programnya mengarah ke sana untuk lambat laun menjadi swasembada dan harus dijalani.

“Kalau enggak. Kalau berhenti udah dibukalah keran impor, masuk lagi. Harga memang murah, tapi dalam jangka panjang impor nya bertambah,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here