IHSG Menguat Meski Ada PSBB, Tapi Rupiah Anjlok Dekati 15 Ribu

Pada perdagangan hari ini, nilai tukar Rupiah akan dinaungi berita positif dari data neraca dagang yang diperkirakan masih akan surplus. Meskipun disisi lain, surplus neraca dagang tersebut justru memberikan indkasi bahwa tekanan ekonomi kedepan masih akan tetap buruk. Karena impor yang banyak didominasi oleh bahan baku penolong sebenarnya menjadi katalis pemulihan kinerja ekonomi kedepan. Disisi lain, rapat gubernur Bank Sentral AS akan menjadi sentiment selanjutnya yang akan menggerakan pasar. Dimana sejauh ini pelaku pasar masih menanti perkembangan terkini dari data ekonomi di AS. Saya melihat perkembangan sejumlah data ekonomi di AS belakangan cukup bagus meskipun masih volatile. Hanya saja terkadang tidak begitu berpengaruh terhadap pasar keuangan. "Sementara itu, pemberlakukan PSBB di DKI yang tidak seketat seperti perkiraan sebelumnya tentunya tidak akan membuat pelaku pasar bereaksi terlalu berlebihan. Dari pantauan di pasar keuangan. Mata uang Rupiah masih terpantau melemah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Senin (14/9). Di pasar spot, mata uang Rupiah melemah dikisaran level 14.925 per US Dolar. Dan diperdagangkan dalam rentang lebar hingga 14.979. Dan saya masih menemukan transaksi mata uang Rupiah yang sempat diperdagangkan di atas 15 ribu atau tepatnya 15.029 per US Dolar pagi ini. Disisi lainnya, kinerja IHSG mampu dibuka menguat di level 5.060,02 atau naik 0.86%. Dan sejauh ini IHSG masih diperdagangkan menguat diatas 5.100. Kondisi Jakarta di hari ini, saat PSBB dimulai ternyata tidak seburuk seperti halnya pemeberlakukan PSBB Total atau Rem Darurat seperti yang diutarakan sebelumnya, dan bahkan dinilai tidak seketat PSBB DKI saat April silam. Hanya saja, berkaca kepada kinerja mata uang Rupiah yang masih berkonsolidasi dikisaran 15 ribuan per US Dolar. Dan sentimen eksternal yang masih dirudung oleh aksi balasan antara AS dan China. Pada dasarnya kinerja pasar keuangan belum sepenuhnya ditopang oleh fundamental yang kokoh. Dan sangat rawan untuk tetap masuk ke zona merah.[R]


Pada perdagangan hari ini, nilai tukar Rupiah akan dinaungi berita positif dari data neraca dagang yang diperkirakan masih akan surplus. Meskipun disisi lain, surplus neraca dagang tersebut justru memberikan indkasi bahwa tekanan ekonomi kedepan masih akan tetap buruk. Karena impor yang banyak didominasi oleh bahan baku penolong sebenarnya menjadi katalis pemulihan kinerja ekonomi kedepan.

Disisi lain, rapat gubernur Bank Sentral AS akan menjadi sentiment selanjutnya yang akan menggerakan pasar. Dimana sejauh ini pelaku pasar masih menanti perkembangan terkini dari data ekonomi di AS. Saya melihat perkembangan sejumlah data ekonomi di AS belakangan cukup bagus meskipun masih volatile. Hanya saja terkadang tidak begitu berpengaruh terhadap pasar keuangan.

"Sementara itu, pemberlakukan PSBB di DKI yang tidak seketat seperti perkiraan sebelumnya tentunya tidak akan membuat pelaku pasar bereaksi terlalu berlebihan. Dari pantauan di pasar keuangan. Mata uang Rupiah masih terpantau melemah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Senin (14/9).

Di pasar spot, mata uang Rupiah melemah dikisaran level 14.925 per US Dolar. Dan diperdagangkan dalam rentang lebar hingga 14.979. Dan saya masih menemukan transaksi mata uang Rupiah yang sempat diperdagangkan di atas 15 ribu atau tepatnya 15.029 per US Dolar pagi ini.

Disisi lainnya, kinerja IHSG mampu dibuka menguat di level 5.060,02 atau naik 0.86%. Dan sejauh ini IHSG masih diperdagangkan menguat diatas 5.100. Kondisi Jakarta di hari ini, saat PSBB dimulai ternyata tidak seburuk seperti halnya pemeberlakukan PSBB Total atau Rem Darurat seperti yang diutarakan sebelumnya, dan bahkan dinilai tidak seketat PSBB DKI saat April silam.

Hanya saja, berkaca kepada kinerja mata uang Rupiah yang masih berkonsolidasi dikisaran 15 ribuan per US Dolar. Dan sentimen eksternal yang masih dirudung oleh aksi balasan antara AS dan China. Pada dasarnya kinerja pasar keuangan belum sepenuhnya ditopang oleh fundamental yang kokoh. Dan sangat rawan untuk tetap masuk ke zona merah.