Polemik pembuangan bangkai babi ke sungai yang hingga kini belum tuntas, masih menjadi perbincangan. Pengamat Politik Ikrimah Hamidy menyebut ada dua masalah yang muncul dari pembuangan bangkai babi ini.

“Ada dua masalah yang muncul dari pembuangan bangkai babi di sungai dan jalanan di kota Medan. Pertama, minimnya pengawasan Pemda terkait keberadaan ternak kaki empat di pinggiran sungai atau ditengah-tengah warga. Kedua, lemahnya tindakan hukum atas pencemaran lingkungan hidup,” katanya kepada Kantor Berita

Menyangkut kerugian yang dialami peternak menurut Ikrimah adalah hal yang berbeda. Ikrimah menyebut tidak bisa kerugian yang peternak alami menutupi kesalahan yang mereka perbuat.

“Adapun kerugian yang diderita peternak adalah hal yang berbeda. Sebab bicara kerugian, nggak bisa menjadi justifikasi kesalahan yang sengaja dilakukan. Apa tidak juga dihitung berapa keuntungan yang selama ini diperoleh peternak dan kerugian pedagang ikan serta nelayan dan masyarakat umum lainnya,” tegasnya.

Oleh karena itu, menurut Ikrimah dalam penegakan hukum, jangan melihatnya dari sisi kerugian saja, namun juga dibandingkan dengan kepentingan publik lainnya. Agar fungsi hukum untuk menata ketertiban di masyarakat dapat terpenuhi.

“Yang harus dilakukan Pemda adalah segera lakukan sosialisasi bahwa wabah kolera babi belum ada obatnya. Mengatasinya adalah melalui pembatasan penyebaran dengan membinasakan babi yang disinyalir tertular dengan cara pembakaran atau penguburan. Pembuangan di tempat terbuka, apalagi ke sungai membuat persoalan semakin parah,” tuturnya.

Ikrimah menuturkan bahwa Pemda harus lebih tegas membuat regulasi binatang ternak kaki empat.

“Pemda juga bertanggungjawab membuat regulasi ternak kaki empat yang dapat melindungi lingkungan hidup, masyarakat umum, kesehatan ternak itu sendiri, serta penataan kota,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here