SEBUTAN resmi kasta guru tentulah tidak ada. Apalagi yang jadi ukurannya regulasi formal jabatan dan kepangkatan guru PNS. Guru hanya mengenal empat jabatan yang terdiri dari : guru pertama, guru muda, guru madya, dan guru utama. Untuk kepangkatan ada yang disebut pengatur, penata, dan pembina sesuai golongan dan ruang yang relatif berdasarkan pada masa kerja. Adapun guru PPPK didasarkan pada kualifikasi tingkat pendidikan terakhir saat melamar jadi guru. Ahli pertama (golongan IX) adalah guru dengan kualifikasi pendidikan Sarjana (S-1) atau Diploma IV (D-IV. Guru pertama (golongan X) adalah guru yang memiliki kualifikasi pendidikan Magister (S-2). Ahli muda (golongan XI) adalah guru dengan kualifikasi pendidikan Doktor (S-3). Untuk guru swasta lebih populer istilah guru senior dan junior.
Belakangan ini muncul beberapa istilah yang bersinggungan dengan aktivitas dan passion guru. Ada guru digital, guru penggerak, guru sadar TIK, guru penulis, guru inspiratif, guru daerah tertinggal, dan lain sebagainya. Sebutan untuk guru ini disebabkan guru menekuni bidang lain selain mengajar biasa seperti guru lain layaknya.
Ada hal yang menarik tentang guru apabila digunakan pov yang berbeda. Dari sisi murid misalnya. Hernowo seorang guru yang juga pengamat pendidikan pernah menuliskan tentang hak dan wewenang guru. Setiap guru punya hak untuk mengajar apabila telah memiliki ijazah keguruan. Namun belum tentu memiliki wewenang mengajar yang sesungguhnya diberikan oleh murid. Itulah sebabnya mungkin masih ada kelas yang ribut dan kacau meskipun ada guru di dalamnya. Guru tersebut tidak mampu mendapatkan wewenang mengajar dari murid di kelasnya. Bisa jadi disebabkan kompetensi pedagogiknya yang masih butuh penguatan. Atau jangan-jangan tiga kompetensi guru lainnya juga masih perlu diasah lewat HBG (hari belajar guru).
Pernah pula ada sebuah esai yang berjudul Guru Sontoloyo. Menurut KBBI, sontoloyo adalah kata yang digunakan dalam ragam percakapan untuk menyatakan kekesalan terhadap hal yang bodoh atau tidak beres. Esai guru sontoloyo adalah pengalaman kekesalan penulis terhadap gurunya yang masuk kelas tanpa persiapan. Tidak bawa sesuatu apapun. Buku saja tidak dibawanya. Media pembelajaran apalagi. Hanya tubuh yang hadir dengan bualan yang tak ada hubungannya sama sekali dengan capaian pembelajaran (=TIK lah pada masa itu). Mungkin inilah satire untuk kasta terendah seorang guru. Sebuah sistem sosial sekolah yang menggambarkan derajat guru di mata para muridnya.
Perkembangan teknologi mestinya semakin memupus kasta terendah guru. Dengan perangkat teknologi guru bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Bebas dari ruang dan waktu. Menjadi guru berarti menjalani pekerjaan dengan hati (noted). The good teacher explain. The mediocre teacher demonstrates. The great teacher inspires. Guru... Tentukan pilihanmu sekarang!
Penulis merupakan Kepala Sekolah SDN 027688_09092026
