Keracunan MBG Berulang, Mangapul Purba Minta BGN Evaluasi Total

POLITIK
externalexternalexternalexternal
Keracunan MBG Berulang, Mangapul Purba Minta BGN Evaluasi Total
Mangapul Purba/Ist

Article Header Image Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Utara Mangapul Purba meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul berulangnya kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG di sejumlah daerah.

Mangapul menilai program yang bertujuan meningkatkan gizi dan kecerdasan anak jangan sampai justru mengganggu kesehatan serta konsentrasi belajar siswa.

“Jangan sampai program yang seharusnya mencerdaskan anak justru membuat mereka sakit dan terganggu konsentrasi belajarnya atau lelet berpikir,” ujar Mangapul kepada wartawan, Minggu, 20 September 2026.

Menurutnya, keamanan pangan harus menjadi prioritas dalam pelaksanaan MBG. Evaluasi, kata dia, perlu mencakup seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi ke sekolah.

“Kalau dalam pelaksanaannya justru berulang terjadi keracunan, ini harus menjadi bahan evaluasi,” tegasnya.

Sorotan Mangapul mencuat setelah sejumlah kasus keracunan MBG terjadi di Sumatera Utara. Berdasarkan data Ombudsman RI Perwakilan Sumut, sepanjang 2026 tercatat empat peristiwa keracunan MBG dengan total 700 korban, terdiri dari 699 siswa dan satu guru. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang mencatat satu peristiwa dengan 107 korban.

Kasus terbesar terjadi di Kabupaten Karo pada Agustus 2026 dengan 389 korban. Ombudsman sebelumnya meminta BGN melakukan pembenahan mendasar terhadap tata kelola MBG serta menindak tegas SPPG yang terbukti menyebabkan keracunan.

Mangapul juga menyoroti kasus keracunan 134 siswa SMP Negeri 1 Laguboti, Kabupaten Toba, pada Oktober 2025. Hasil pemeriksaan BBPOM Medan saat itu menemukan bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus melebihi ambang batas pada sampel makanan.

Karena itu, Mangapul meminta pemerintah pusat dan daerah bersama BGN memperketat pengawasan seluruh SPPG serta membuka hasil evaluasi secara transparan kepada publik.

“Kita ingin anak-anak mendapatkan makanan bergizi, bukan justru mendapatkan makanan yang membuat mereka sakit. Karena itu, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Ia berharap setiap kejadian dapat menjadi bahan perbaikan sehingga MBG benar-benar mencapai tujuan meningkatkan gizi, kesehatan dan kualitas generasi muda Indonesia.Article Image

Editor : Jonris Purba


Berita Terkait