KPK/Net

Mungkin kata ‘sandera’ menjadi tepat jika melihat ‘hubungan’ yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan DPRD Sumatera Utara (Sumut). Bayangkan saja kasus dugaan suap anggota DPRD Sumut dari Gatot Pujo Nugroho yang kala itu masih menjabat Gubernur Sumatera Utara, masih terus jadi momok yang membuat para anggota dewan yang duduk pada periode 2009-2014 dan/atau 2014-2019, dihantui rasa was-was, khususnya mereka yang dulu sudah pernah dipanggil namun kemudian statusnya ‘digantung’ hingga kemudian muncul kembali penetapan status tersangka terhadap 14 orang anggota dewan periode tersebut oleh KPK.

Asas persamaan di hadapan hukum atau yang sering disebut dengan istilah bahasa lain Equality before the law memang menjadi asas yang wajib hukumnya bagi seluruh warga negara ini. Tapi apa iya, menggantung nasib seseorang karena lakukan ‘kesalahan’ seperti yang dilakukan oleh para anggota dewan tersebut bukan sebuah pelanggaran oleh institusi penegak hukum?

Saya rasa, ini perlu dikaji lebih jauh, khususnya soal cara KPK dalam mewujudkan ‘asas persamaan’ tersebut kepada seluruh anggota dewan yang menerima suap tersebut.

Pemeriksaan terhadap seluruh anggota DPRD Sumut periode tersebut sudah dilakukan berkali-kali oleh lembaga anti rasuah ini. Bahkan sebagian orang sudah menyebutnya bak sinetron yang episodenya terus bersambung. Ironisnya, cerita dalam setiap episode ini hampir selalu sama dan saya kira pengakuan mereka-mereka yang diperiksa juga tetap sama, dengan kata lain ‘dialog maupun lakon’ nya akan tetap sama.

Lantas kok masing-masing ‘pemain’ disuruh nunggu giliran untuk masuk studio? Saya kira ini sedikit tidak adil. Tapi itu tentu pandangan saya secara pribadi. Karena dibalik itu semua, tentu saya hanya ‘pemirsa’ yang hanya bisa melihat ‘adegan, lakon dan dialog’ yang ada pada bagian depan layar. Kalau yang dibelakang layar atau sering disebut dengan istilah Behind the Scenes tentu saya tak tau.

Padahal sebenarnya bisa saja ini akan jauh lebih menarik jika saya dapat kesempatan melihat langsung apa yang terjadi ‘dibalik layar’ tersebut. Seperti magnet begitulah daya tariknya. (Jonris Purba)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here