Fachri Husaini Hasibuan/RMOLSumut

Eksistensi Kaum Millenial/Pemuda Indonesia Kemerdekaan bangsa merupakan karya monumental yang luar biasa yang dihasilkan oleh para founding fathers bangsa, yang tidak lain adalah didominasi para pemuda. Kemerdekaan bangsa ini bukan dihasilkan melalui warisan para penjajah, namun dihasilkan melalui tercecernya keringat dan darah, semangat dan aktivitas, retorika dan diplomasi yang dilakukan oleh para pendahulu.

Peran pemuda dalam sejarah negara dan bangsa Indonesia pertama kali dapat dilihat dari kebangkitan bangsa tahun 1908 atau tepatnya ketika berdiri Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908. Melalui proses kebangkitan bangsa ini, maka para pemuda telah menggelorakan semangat agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak terserak-serak dalam arti wilayah, suku, ras, agama dan sebagainya akan tetapi telah memiliki kesadaran berorganisasi sebagai persyaratan untuk kebangkitan nasional.

Mereka dikenal sebagai generasi 08. Salah satu tonggak lain, persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya ketika terjadi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Hal ini berarti bahwa pemuda telah memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia merupakan titik awal bagi proses pembentukan negara bangsa yang kemudian dikenal sebagai negara dan bangsa Indonesia.

Kongres para pemuda ditahun tersebut tentunya tidak bisa dibayangkan seperti rapat umum di zaman sekarang. Rapat Umum para pemuda kala itu tentu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kaum kolonialis, sehingga akan terdapat banyak kesulitan yang dihadapi. Meskipun begitu, para pemuda dengan sangat antusias dan semangat akhirnya dapat mencetuskan gagasan mengenai Indonesia pasca penjajahan, Indonesia merdeka.

Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai generasi tahun 28 (dua puluh delapan). Generasi muda kemudian juga berhasil menorehkan tinta emas bagi perjalanan bangsa ini ketika ditahun 1945 kembali mereka me-renda dan mengimplementasikan gagasan mengenai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa dalam bentuk kemerdekaan bangsa, yang teks proklamasinya dibacakan oleh Ir. Soekarno tepat jam 10 tanggal 17 Agustus 1945.

Melalui proklamasi kemerdekaan ini, maka bangsa Indonesia yang selama ini tidak memiliki kedaulatan yang terfragmentasi dalam kerajaan-kerajaan, maka menyatu menjadi satu yaitu bangsa Indonesia. Lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang sering dikumandangkan pada waktu upacara merupakan simbol dan substansi dari menyatunya segenap elemen bangsa Indonesia.

Mereka dikenal sebagai generasi 45 (empat lima). Ketika terjadi krisis kekuasaan akibat gerakan makar yang dilakukan oleh PKI di tahun 1966, maka pemuda juga bangkit melakukan perlawanan. Para aktivis organisasi kemahasiswaan, seperti GMNI, PMII, HMI, PMKRI, GMKI dan segenap elemen mahasiswa melakukan tiga tuntutan rakyat (Tritura) yang sangat dikenang, yaitu: Bubarkan PKI, Bersihkan pemerintahan dari unsur-unsur PKI dan Turunkan harga. Tritura ini menjadi salah satu power pressure bagi pemerintahan Orde Lama untuk melakukan berbagai perubahan sehingga memunculkan Orde Baru yang kemudian berkuasa dalam puluhan tahun. Mereka dikenal sebagai generasi 66 (enam-enam).

Dalam rangka memantapkan semangat juang dan mental pemuda Indonesia untuk tetap bersatu maka pada Tahun 1973 terbentuknya Deklarasi Pemuda yang melahirkan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), serta tahun 1998-1999 dengan semangat kejuangannya yang kritis, dinamis dan rasional untuk menegakkan Demokrasi, Keadilan dan Supremasi Hukum yang berakumulasi secara sinergik telah melahirkan era reformasi.

Siapakah milenial itu? Perbincangan mengenai milenial tengah mengemuka dalam perbincangan sosial politik hari ini seiring dengan semakin tumbuh dan berkembangnya kalangan milenial di ruang publik. Generasi ini adalah bagian dari trend populasi demografi global mulai dari kalangan tradisionalis (1922- 1945), kalangan baby boomers (1945-1964), generasi X (1964-1980), dan kini adalah generasi Y (1980-1995). Setiap generasi tersebut menampilkan sikap dan persepsi politik berbeda.

Generasi tradisionalis mewakili kelompok masyarakat transisi menuju negara modern, kalangan baby boomers adalah kelompok masyarakat tumbuh di masa paska perang yang memicu adanya angka pertumbuhan penduduk besar, dan kalangan X adalah kelompok masyarakat yang berkembang dalam masa developmentalisme dan perang dingin.

Sedangkan yang terakhir, kelompok Y atau milenial adalah kelompok masyarakat yang tumbuh transisi dari masa analog ke digital. Secara biologis, muncul perdebatan mengenai munculnya generasi ini mulai dari 1977-1995, 1980-1996, maupun juga 1985-1992. Disamping munculnya perdebatan umur, mereka juga dikenal sebagai kalangan masyarakat Net Generation, Generation Next, Echo Boomers, Digital Natives, maupun juga Generation WHY .

Dalam kasus di Indonesia, kalangan milenial ini akan masuk pada kelompok kelas menengah sebesar 34 % pada tahun 2020 dimana saat itu kelompok kelas menengah Indonesia akan berada di posisi 62,8 % dari jumlah populasi Oleh karena itulah, kelompok milenial sejak mulai sekarang sudah harus disiapkan sebagai kelompok suksesor sosial-politik di Indonesia ke depan.

Berbicara trend politik, kalangan kelompok milenial adalah kelompok masyarakat yang preferensinya berbasiskan pada media digital . Hal itulah yang menyebakan politik milenial juga lazim disebut politik digital karena menampilkan dimensi politik yang lentur dan dinamis. Munculnya milenial dalam politik juga menandai adanya perpindahan dari politik analog ke politik digital.

Politik analog digambarkan sebagai politik yang didasarkan pada saluran informasi tunggal dan institusionalis sehingga terkesan formalistik. Sedangkan politik digital lebih menampilkan adanya informasi politik yang sifatnya verifikatif. Hal itu yang terbaca dalam survey CSIS terbaru jika 54,3 persen kalangan milenial itu membaca media online sebagai pengetahuan dan juga aksesbilitas terhadap Facebook sebesar 81, 7 persen dan WhatsApp . Dengan demikian mereka secara psikologis adalah kelompok yang open minded dengan segala macam limpahani informasi yang diterima baik langsung atau tidak langsung.

Belakangan ini politik diametral santer mengisi langit perpolitikan Nasional, banyak prahara hingga perkara yang terus tersaji dalam dua kotak. Kotak A dan B, antara kotak A dan kotak B diproyeksikan dapat tersusun dalam lemari yang sama dan tinggal satu kotak pasca 17 April 2019, nyatanya kotaknya sekarang sudah diadalam lemari, tetapi masih terdapat dua kotak disana. artinya lemari tak cukup mampu menjadi tempat yang nyaman untuk kemudian membuat dua kotak menjadi satu kotak.

Dalam hal politik, sikap generasi milenial hari ini lebih berupaya membangun forum-forum secara informal untuk menujukkan bahwa mereka “ada”. Sedangkan untuk aspek representasi, kalangan milenial lebih mengandalkan aspek voluntarisme dan berjejaring dalam berupaya membangun representasi politik. Pola praktik instituional Generasi milenial lebih berupaya membangun konektivitas daripada kolektivitas dan membangun realibilitas daripada kredibilitas dalam melakukan representasi politik.

Oleh karena itulah, semangat politik tanpa platform kemudian digaungkan oleh kalangan milenial di Indonesia karena dengan dan tanpa memiliki ikatan insitusional yang baku. Maka dengan mudah dalam menyampaikan idealisme politik mereka hari ini. Generasi milenial berupaya menjadi generasi korektif dan kuratif terhadap situasi sosial-politik Indonesia hari ini. Salah satu tantangan terbesar milenial untuk menjadi suksesor kepemimpinan politik di Indonesia adalah masih kuatnya senioritas dan faktor identitas primordial sebagai kompor kepentingan politik. Maka penting untuk disimak lebih lanjut, mengenai siapa milenial ini dan bagaimana tantangan dan harapannya dalam politik Indonesia ke depan.

Fachri Husaini Hasibuan, S.Pd
Pegiat Pendidikan Sumatera Utara

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here