Ilustrasi/Net

AHMAD Yosef Adinegoro, atau biasa dipanggil Rudi, adalah produk dua keyakinan yang berbeda. Bapaknya ke mesjid, ibunya ke gereja. Namun, itu bukan masalah. Sebab kedua orang tuanya bebas memberikan pilihan kepada Rudi dan saudaranya untuk memilih jalan sendiri menuju surga.

Awalnya, menjadi bagian keluarga itu  sungguh membuat Rudi malu dan jemu. Malu karena selalu menjadi bahan pembicaraan, baik di kalangan keluarga, tempat tinggal, maupun teman sekolah. Jemu karena dia selalu mendengar pertanyaan yang itu-itu saja: “Kok bisa berbeda? Jadi kamu pilih yang mana? Ikut bapakmu kah? Atau ikut ibumu kah?”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya yang justru tidak pernah datang dari bapak dan ibunya.

Seiring waktu melaju, Rudi sudah biasa dengan semua itu. Dia biasa dengan perbedaan. Bahkan, sebagai seorang remaja yang baru tumbuh, dia pernah merasa bangga. Sebab, bila hari minggu tiba dia pergi ikut kebaktian bersama ibunya. Dan bila jumat, dia ke mesjid ikut bapaknya. Perbedaan kian akrab, seiring keintiman yang digelutinya dinikmati dengan seksama. Dia begitu toleran terhadap pemeluk agama orang tuanya. Itu membuat dia cukup bangga, karena terlahir dari keluarga yang penuh perbedaan. Itu membuat dia senang karena dari kedua orang tuanya dia bisa membaca suhu dunia, dan itu cukup membantunya untuk membuka rahasia semesta.

“Dimana lagi kalau tidak di sini? Di rumah ini? Kalau tiba hari natal, lampu aneka warna berkerlap kerlip menghiasi pohon cemara plastik? Dan bila lebaran, selalu ada opor ayam di meja makan yang bisa dinikmati sepulang sembahyang di lapangan?” begitu, Rudi pernah meyakinkan dirinya sendiri.

Hidup di rumah yang sarat dengan perbedaan, tak begitu saja membuat Rudi menjadi mahluk yang tanpa keyakinan. Dia dan ketiga saudaranya, pun telah memilih tanpa bermaksud memenangkan dan membuat kedua orang tuanya senang. Pilihan yang dibuat Rudi dan ketiga saudaranya, adalah benar-benar pilihan menuju surga. Dua kakak Rudi dengan sadar memilih percaya pada Tuhan bapak mereka. Sedang Rudi dan si bungsu, Maria Magdalena Adinegoro, ikut sang ibu.

Usia 19 tahun resmilah Rudi menjadi pemeluk agama ibunya. Dia tak lagi ke mesjid, namun pergi ke gereja. Dia punya nama baptis yang diambil dari nama seorang suci, Johannes.
Sejak itu, kita akan mengenal Rudi bukan lagi Rudi yang bias dalam keyainan, tetapi sebagai Yohannes yang pergi ke gereja dan akrab di sapa Jhonny.

Waktu berkisar, zaman berputar. Jhonny kian dewasa. Dan kedua orang tuanya pun ikut merenta. Sejauh ini tak ada yang luar biasa. Selain hal-hal biasa yang berlangsung di dalam rumah dan kehidupan keluarga pelangi itu.

Hingga pada suatu ketika, datanglah desakan dari kedua orangtuanya untuk segera menikah. Desakan itu keluar, karena tinggal Jhonny yang belum menikah. Sebagai penerus trah Adinegoro, Jhonny yang bersaudarakan tiga perempuan itu, diminta secepat mungkin melahirkan penerus nama keluarga besarnya.

Maka perburuan dimulai. Lelaki berusia 34 tahunan itu mulai bergerilya menyisir kota ke kota. Dari Aceh, dia turun ke selatan, ke kampung ibunya. Berhenti di Sidempuan dan jatuh hati pada perempuan desa. Rukayah namanya. Bidan desa, sudah janda dan beranak dua. Mendiang suaminya adalah seorang prajurit yang tewas saat operasi militer di Aceh. Cinta sudah lengket bak getah karet. Meski janda, Jhonny tak menghiraukan status Rukayah. Dia bertekad memboyong Rukayah dan anak-anaknya ke Jakarta.

“Tapi apa mungkin mereka menerimaku?” tanya Rukayah mencoba meyakinkan Jhonny.
“Tak mengapa. Toh mereka juga berbeda,”
“Tapi aku tidak bisa seperti mereka,”
“Pasti bisa. Toh aku pernah islam juga. Bahkan aku fasih membaca Al Fatihah…”
“Aku ngerti. Percaya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tidak, aku tidak bisa. Semakin dekat harinya, semakin membuatku ragu,”
“Tidak perlu ragu,”
“Bagaimana… kalau kau masuk agamaku saja?”
“Masuk agamamu?”
“Hm…”
“Tidak bisa dengan agamaku yang sekarang saja?”
“Tidak, karena keluargaku keberatan kalau kita bersatu dengan keyakinan yang tetap berbeda,”
“Tapi yang cinta-cintaan kan kita?”
“Iya. Tapi aku tak siap saja…”
“Jadi, aku harus masuk agamamu?”
“Hm…”
“Masuk?”

“Iya…”

Malam itu, hati Jhonny kian kisruh. Galau menyelubungi sanubarinya. Dia mesti mengambil keputusan. Keluar dari agama ibunya atau mesti masuk agama bapaknya. Dia tak mau mengambil keputusan yang salah. Dia tak mau melukai hati ibunya dan mencederai imannya. Maka keesokan harinya, inilah yang dia katakan pada Rukayah:
“Sebagai manusia, aku mengasihimu. Sungguh. Tak ada yang bisa menyangkal dan berkata, bahwa itu semua dusta. Aku ingin memperistrimu. Meski dalam cinta kita sama, tapi, kita memang berbeda. Demi cintaku padamu, pada ibuku dan pada Tuhan kita berdua yang berbeda. Aku mundur, dan membatalkan niatku itu. ”
Mendengarnya, Rukayah menangis. Lama sekali.

Waktu tak mau kompromi. Dia berjalan terus. Selalu menggerus. Luka dan trauma Jhonny dimamah semua. Hingga pada suatu masa di kota lain, pada sebuah perburuan lain, Jhonny memantapkan pilihannya.

Adalah Cyinthia, dara Manado keturunan Tioghoa yang menjadi tambatan hatinya. Cantik, pintar dan seiman pula. Bisa sebagai penawar sakit hati karena ketidakberdayaan Jhonny sendiri. Empat bulan hubungan pacaran berlangsung. Bahkan Jhonny memutuskan untuk memindahkan usahanya ke kota si perempuan. Tak mau gagal lagi, Jhonny berniat segera memutuskan untuk memberikan keturunan dan meneruskan trah Adinegoro. Cincin pun dipesan. Keperluan perhelatan pesta disiapkan. Jhonny dan Cyinthia menempah baju yag akan dikenakan pada pesta mendatang.

“Kamu siap?”
“Siap…”
“Selalu?”
“Kapan pun…”
Malamnya, galau kembali bergelayut di hati Jhonny. Meski tak lebih besar dari cintanya pada Rukayah, tapi faktanya Jhonny mencintai Cyinthia. Dan itu betul. Jhonny segera menjawab keraguan cintanya itu pada Cyinthia. Tapi bukan itu juga ternyata yang menjadi pangkal keraguannya. Dia ragu. Dan semakin ragu-ragu setiap kali mengingat bapaknya. Mengingat keluarganya, harmoni dan demokrasi yang sudah dibangun sejak puluhan tahun. Lelaki itu kian kecut ketika sekarang dia berhadapan pada persoalan bahwa, ketika dia menikahi Cyinthia, maka akan timbul persoalan yang lebih besar. Ketakutan itu menghantui Jhonny. Ketakutan bahwa proses demokrasisasi tak berlaku lagi di rumahnya. Karena akan ada yang kalah di sana . Dan Jhonny tak mau menjadi penyebab kekalahan itu. Dia tak mau bila akhirnya kedudukan di rumah dimenangkan oleh ibunya. Dan mengalahkan bapaknya.

“Apakah pernah di rumah ini, kau diajarkan untuk memihak selain pada kebenaran dan kejujuran?” tanya Bapak.
“Tidak Pak,”

“Apakah pernah di rumah ini kau diajarkan untuk melukai hati orang lain?”
“Tidak Pak…”
“Lantas, kenapa kau lukai hati Cyinthia? Apa salahnya?” tanya bapak bertubi-tubi.
Di sana , di kursi yang lain ibu Jhonny terisak menahan tangisnya.
“Apakah pernah kuajarkan kau untuk mencoreng wajahmu sendiri dengan alasan yang tak masuk di akal?”
“Ampuni aku Bapak,”
“Kau melukai rumah ini. Kau merusak warna warni yang selama ini aku dan ibumu rawat. Aku kecewa Jhonny, kecewa.”
“Ampun Bapak, ampun Ibu,”
“Aku tak bisa mentolerir semua alasan dan pembenaranmu itu,”
“Tapi Bapak…”
“Cukup… kuminta kau membawa istri tapi yang kau bawa adalah luka. Aku cuma meminta agar kau meneruskan generasi kita. Tak pernah aku memintamu merusak apa yang sudah ada,” kata bapak menahan marahnya.

Sejurus orang tua itu pergi meninggalkan Jhonny dan ibunya.
“Ibu…” rengek Jhonny, mengharap pembelaan dari ibu.
“Aku selalu membelamu, karena kau anakku. Tapi untuk hal ini, suamiku itu benar. Kami tak pernah kurang memberi pelajaran soal kasih sesama padamu. Tak pernah sekali pun kami meributkan perbedaan keyakinan. Sampai hari ini, ketika kau datang dan menjelaskan semua alasanmu membatalkan pernikahanmu, kami tidak ributkan itu,”
“Tapi aku…”
“Seperti bapakmu, aku pun tak mengharapkan dukungan. Pilih jalanmu sendiri. Dan tanggung segala konsekwensinya. Karena itu yang membawamu ke surga,” kata ibu kemudian pergi menghampiri bapak di ujung pintu.

Sudah dua tahun sejak peristiwa itu. Segalanya bergulir seperti air. Di rumah, bapak dan ibu sudah semakin renta. Mereka tak lagi selalu terlihat bersama-sama. Meski kenyataannya saat ini mereka berdua benar-benar tinggal berdua di rumah. Kadang terlihat, bapak khusyuk memutar tali tasbihnya, berzikir dan mengingat Tuhannya. Dan ibu semakin giat ke gereja dan melakukan kegiatan sosial. Ruang makan sepi. Tak ada lagi tawa yang membuncah. Tak ada lagi yang menyiapkan makanan sahur untuk bapak. Tak ada lagi yang duduk menunggui kado dibuka di bawah pohon natal. Semua hidup dalam keyakinan masing-masing.
Sudah dua tahun pula sejak peristiwa itu, Jhonny memutuskan untuk hijrah ke Bali . Memulihkan luka hatinya, memulihkan semua kehancuran yang pernah ada. Sampai suatu ketika dalam masa pemuliah itu, dia bertemu dengan Rukayah, janda yang pernah memaksanya membuat sebuah keputusan yang salah.

“Bertahun-tahun, aku sudah merenungkannya. Sekarang aku tak mau buat kesalahan lagi,”
“Hm…”
“Kita menikah, kau tak perlu pindah agama. Biar aku saja,”
“Apa?”
“Iya. Tuhan manapun bisa memaafkannya. Kalau tak bisa, maka dia bukan Tuhan, dan kita tak perlu menyembahnya…”
“Kenapa begitu tiba-tiba?”
“Karena aku sudah yakin,”
“Yakin? Apa yang kau yakini?”
“Cinta, dirimu, hidupku…”
“Tak ada yang kau yakini. Kau tak punya keyakinan…”
“Sebentar lagi, aku punya keyakinan baru. Bukankah itu maumu?”
“Bukan. Itu bukan mauku. Itu maumu…”
“Bagus, terus…”
“Terus? Apanya? Aku janda. Beranak dua. Aku yakin bisa menuntaskan hidupku dengan keyakinanku…”
“Oke, aku paham, dan…?”
“Dan apa?”
“Menikah denganku?”
“Menikah denganmu?”
“Iya…”
“Sebagai sesama manusia, aku mengasihi siapa saja.”
“Maksudmu?”

“Sudah, yakinlah. Selamanya aku akan mengasihimu. Karena kita memang pernah berbagi kasih. Terima kasih karena telah meyakinkanku tetang kasihmu. Tapi aku tak bisa”
“Kau? Permainan aku?”
“Hei…. Kenapa?”
“Tidak fair! Kau membalasku?”
“Aku suka dirimu yang dulu. Karena dulu kau punya keyakinan. Meski berbeda, tapi aku tetap sayang dan cinta. Sekarang aku tak punya keyakinan itu. Aku tak bisa. Maafkan…”
“Aku siap masuk islam. Jadi apa saja. Asal jangan kau menjauh dari hidupku…”
“Kaulah yang sudah menjauh dari hidupmu. Kau menjauh dari keyakinanmu. Pulanglah, dan yakinkan dirimu sendiri. Aku tak bisa hidup dengan orang yang tak punya keyakinan…”

Kawanku bilang. cinta itu buta. Keyakinanlah yang hakiki. Tapi aku membantah semua itu. Omong kosong kataku. Cinta tak buta, karena cinta memilih. Dan keyakinan itu bisa dibuat-buat. Oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Ahmad Yosef Adinegoro alias Rudi alias Johannes alias Jhonny, saat ini tengah berada di kamarku. Dia terlalu banyak mengoceh. Mungkin karena semalaman kebanyakan menenggak cognac. Dan aku mulai yakin dengan apa kata-katanya soal keyakinan. Bahwa keyakinan itu taik kucing. Aku dan Jhonny adalah mahluk yang mencoba hidup dalam keberagaman dan lautan perbedaan. Dan kami yakin itu semua indah. Aku yakin sekali. Seperti keyakinanku pada cerita kawan baruku itu.

Bye the way… ada lagi yang mau cognac? Tak ada? Hei… hei…sekarang aku betul-betul yakin, aku sedang bicara pada dinding.

Binjai, 10 Januari 2010

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here