Kaum Milenial Indonesia (KAMI) wilayah Humbang Hasundutan (Humbahas) mengadakan Webinar, Sabtu lalu. Diskusi tersebut mengangkat thema ‘Kolaborasi Pendanaan dan Optimalisasi Dana Desa untuk Pertanian dalam Pandemi Covid-19’.

Webinar itu juga dihadiri sejumlah narasumber, seperti Bupati Humbahas; Dosmar Banjarnahor, Ketua Komisi B DPRD Sumut; Viktor Silaen ,Sekjend DPP KNPI; Jackson Kumaat dan Humica Simamora mewakili Petani Humbahas.

Dalam rilis yang diterima, Senin (22/6/2020), webinar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan kondisi terkini isu dana desa dan pertanian. Harapannya, diskusi tersebut mampu memunculkan ide dan gagasan inovatif terkait penyelesaian masalah isu pertanian di Humbahas.

Sehingga, diharakan anggaran dana desa yang tepat sasaran pada pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.

Founder KAMI, Swangro Lumban Batu mengatakan jika kehadiran KAMI sebagai bentuk kegelisahan melihat anak muda saat ini dominan dengan hidup individualistik. Apatis terhadap lingkungan sekitarnya dan terlalu fokus dan sibuk dengan gawainya masing.

“Kita ingin melihat bahwa kaum milenial juga dapat berperan dengan lingkungannya, apalagi dalam webinar KAMI kali ini berbicara mengenai Dana Desa dan Pertanian. Nantinya kita harapkan para Milenial mengambil peran dalam isu hangat tersebut di Humbahas,” ujar Swangro dalam keterangan resminya yang diterima wartawan, Senin (22/6/2020).

Direktur Wilayah KAMI Humbahas yang juga moderator dalam webinar tersebut, Yedija Manullang menjelaskan, dasar kegiatan ini adalah Perpu Nomor 1 Tahun 2020. Serta hasil rapat Pemkab Humbahas terkait penggunaan anggaran Dana Desa untuk diprioritaskan sebagai penguatan kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat melalui upaya pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Kita ingin mendengar sejauh mana anggran tersebut dialokasikan dari pemkab humbahas, pengawasan dari anggota DPRD, sejauh mana serapan dana yang dirasakan dari praktisi dan rekomendasi dari akademisi hingga harapan dari pemuda, nantinya kita harapkan akan memperkaya dan memberikan perspektif baru serta memberikan solusi kongkret untuk kemajuan Humbahas kedepannya,” jelas Yedija.

Bupati Dosmar dalam paparannya menjelaskan bahwa Kabupaten Humbahas yang memiliki 153 desa yang tersebar di 10 kecamatan, memiliki empat kultur yakni memiliki Iman, pekerja keras, tanah subur, air cukup. Dimana, jika semua itu dioptimalkan, akan membuat Humbahas menjadi rolemodel pertanian di Sumatera Utara.

Dosmar melanjutkan, saat ini Pemkab Humbahas mengakolasikan dana Refocusing APBD sebanyak Rp15 miliar dialokasikan untuk pertanian untuk membeli benih bawang merah dan bibit jagung.

Hal ini dilakukan karena bawang merah di Sumut mengalami defisit, biaya usaha tani cukup murah dan bisa disimpan dalam beberapa bulan. Selain itu, jagung mengalami konsisten harga yang cukup stabil baik di masa pandemi.

“Dari 10 kecamatan, 153 desa harus dilakukan klaster pertanian. Misalnya, di daerah pertanian di daerah Pakkat, Palilitan, Tarabintang (Papatar) ditanam padi, jagung dan buah-buahhan. Untuk daerah dataran tinggi Doloksanggul, Paranginan, dan Lintong ditanam tanaman Holtikultura. Kita harus fokus, anggaran tidak banyak, waktu tidak banyak agar tidak sia-sia APBD dan Dana Desa dan tidak selamanya kita miskin,” pungkas Dosmar yang berharap melalui forum Diskusi tersebut dapat disampaikan kepada masyarakat.

Ketua Komisi B DPRD Sumut, Viktor Silaen, mengatakan bahwa desa merupakan ujung tombak pembangunan negara jadi harus ada regulasi dari pemerintah daerah dalam mengelolah serapan anggaran untuk kepentingan masyarakat.

“Pemerintah sebaiknya memikirkan industri turunan dari hasil pertanian misalnya saus yang di produksi secara kecil dalam rumah produksi dan tentu dalam dukungan dan pengawasan dari pemerintah Humbahas. Dengan demikian ketika panen melimpah dan hasil pertanian banyak tidak membuat harga jatuh dan hasilnya dapat diproduksi jadi barang lain,” ujar Viktor.

Humica Simamora salah satu Petani di Humbang Hasundutan mengkritik Pemkab Humbang Hasundutan yang dalam alokasi pendanaan sejauh ini hanya fokus pada pembangunan fisik saja.

“Optimalisasi dana selama ini dalam bidang pertanian belum fokus pada SDM, padahal akan lebih susah kedepannya. Kalaupun ada sarana dan prasana tidak dapat dikelola oleh SDMnya dan ini berlanjut dari tahun ke tahun sehingga membuat pembangunan itu-itu saja,” jelas Humica.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika Pemkab belum memiliki strategi khusus pada saat panen melimpah bisa diberikan kepada etani untuk memasarkan hasil pertanianya. Ditambah lagi sudah semakin banyak orang melirik pertanian dan mengantungkan hidup dipertanian, apalagi dimasa pandemi ini bahwa pertanian dapat survive.

“Dana desa belum terealisasi merata diseluruh desa di Humbahas, salah satunya didesa Simangonsang. Di desa-desa lain sudah merasakan dan sudah dikelolah,” ujar Humica yang juga Alumnus USU tersebut.

Mewakili Kelompok Pemuda, Sekretaris Jenderal KNPI Jackson Kumaat menantang para Milenial Humbahas agar dalam optimalisasi dana desa.

“Agar dana tepat sasaran maka semua harus bersinergis, karena Dana tersebut dialokasikan untuk kepentingan orang banyak. Maka agar tidak terjadi penyelewangan dibutukan pengawasan dan pendampingan. Tentu itu bukan hanya tugas oleh DPR melainkan juga masyarakat, salah satunya adalah Pemuda,” tegas Jackson.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here