Pengamat: Meski Resesi, Tapi Kondisi Indonesia Tidak Seperti Krisis 98

Ancaman resesi pada perekonomian nasional sudah tak terbantahkan lagi. Pertumbuhan ekonomi akan bergerak minus selama dua kuartal yang mengindikasikan bahwa ekonomi nasional tengah berkontraksi dan butuh waktu yang panjang untuk proses pemulihan. Data pertumbuhan ekonomi yang negative tersebut memang akan terlihat menjadi kabar buruk bagi kita semua. "Akan tetapi, saya melihat masih ada beberapa indikator ekonomi yang mungkin akan tetap stabil bahkan realisasinya akan lebih baik dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Data data ekonomi yang membaik tersebut setidaknya menyisahkan kabar bahwa sekalipun kita resesi nantinya. Namun kita masih akan tetap mampu bertahan dari tekanan ekonomi dan tidak akan seperti nasib buruk Indonesia di tahun 97/98 silam," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Selasa (1/9). Data yang pertama akan membaik adalah inflasi. Kalau tahun 97/98 sempat terjadi hiper inflasi di tanah air. Maka di tahun ini, resesi yang mungkin terjadi nantinya justru tidak membuat Indonesia mengalami hiper inflasi. Indonesia justru akan berpeluang dengan mencetak laju tekanan inflasi di bawah angka 3% di tahun 2020 ini. Bahkan bisa lebih kecil dari 2.5%. "Berbeda dengan tahun 97/98 dimana inflasi justru sempat meroket hingga diatas 50%," ujarnya. Kedua adalah  neraca perdagangan yang membaik. Sekalipun terjadi resesi, ekspor nasional memburuk. Namun kondisi neraca perdagangan akan membaik dengan mencetak surplus. Hal ini tidak terlebah dari aktifitas impor yang juga mengalami penurunan. Ketiga, karena neraca dagang surplus, maka mata uang rupiah juga diperkirakan akan bergerak stabil. Rupiah diyakini akan bergerak stabil dikisaran 14.300 hingga 15.000 di sisa akhir tahun ini. Kinerja mata uang rupiah tidak seperti tahun 97/98 yang sempat terjun bebas. Kala itu, tahun 90-an rupiah yang sempat dikisaran 2.500 per US Dolar, pernah melemah hingga di 16 ribuan per US Dolar saat krisis 98 terjadi. Keempat, IHSG diyakini akan kembali membaik di sisa akhir tahun 2020 ini. IHSG diyakini akan kembali mengalami penguatan sekalipun resesi terjadi di tanah air. "Saya memperkriakan setidaknya IHSG bisa kembali ke level 5.700-an menjelang akhir tahun 2020 nanti. Jadi sekalipun terjadi resesi, sepertinya kita tidak harus merasa takut berlebihan. Terlebih mengkait-kaitkan kemungkinan krisis yang sempat terjadi tahun 97/98 silam. Kita memang berpeluang resesi tetapi kita mampu bertahan lebih baik di resesi kali ini," pungkasnya.[R]


Ancaman resesi pada perekonomian nasional sudah tak terbantahkan lagi. Pertumbuhan ekonomi akan bergerak minus selama dua kuartal yang mengindikasikan bahwa ekonomi nasional tengah berkontraksi dan butuh waktu yang panjang untuk proses pemulihan.

Data pertumbuhan ekonomi yang negative tersebut memang akan terlihat menjadi kabar buruk bagi kita semua.

"Akan tetapi, saya melihat masih ada beberapa indikator ekonomi yang mungkin akan tetap stabil bahkan realisasinya akan lebih baik dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Data data ekonomi yang membaik tersebut setidaknya menyisahkan kabar bahwa sekalipun kita resesi nantinya. Namun kita masih akan tetap mampu bertahan dari tekanan ekonomi dan tidak akan seperti nasib buruk Indonesia di tahun 97/98 silam," kata pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Selasa (1/9).

Data yang pertama akan membaik adalah inflasi. Kalau tahun 97/98 sempat terjadi hiper inflasi di tanah air. Maka di tahun ini, resesi yang mungkin terjadi nantinya justru tidak membuat Indonesia mengalami hiper inflasi. Indonesia justru akan berpeluang dengan mencetak laju tekanan inflasi di bawah angka 3% di tahun 2020 ini. Bahkan bisa lebih kecil dari 2.5%.

"Berbeda dengan tahun 97/98 dimana inflasi justru sempat meroket hingga diatas 50%," ujarnya.

Kedua adalah  neraca perdagangan yang membaik. Sekalipun terjadi resesi, ekspor nasional memburuk. Namun kondisi neraca perdagangan akan membaik dengan mencetak surplus. Hal ini tidak terlebah dari aktifitas impor yang juga mengalami penurunan.

Ketiga, karena neraca dagang surplus, maka mata uang rupiah juga diperkirakan akan bergerak stabil. Rupiah diyakini akan bergerak stabil dikisaran 14.300 hingga 15.000 di sisa akhir tahun ini. Kinerja mata uang rupiah tidak seperti tahun 97/98 yang sempat terjun bebas. Kala itu, tahun 90-an rupiah yang sempat dikisaran 2.500 per US Dolar, pernah melemah hingga di 16 ribuan per US Dolar saat krisis 98 terjadi.

Keempat, IHSG diyakini akan kembali membaik di sisa akhir tahun 2020 ini. IHSG diyakini akan kembali mengalami penguatan sekalipun resesi terjadi di tanah air.

"Saya memperkriakan setidaknya IHSG bisa kembali ke level 5.700-an menjelang akhir tahun 2020 nanti. Jadi sekalipun terjadi resesi, sepertinya kita tidak harus merasa takut berlebihan. Terlebih mengkait-kaitkan kemungkinan krisis yang sempat terjadi tahun 97/98 silam. Kita memang berpeluang resesi tetapi kita mampu bertahan lebih baik di resesi kali ini," pungkasnya.