Peristiwa Karbala dan Isu PKI

Peristiwa Karbala dan Isu PKI

PERISTIWA Karbala yang kemudian menimbulkan tragedi Asyura berawal dari pertempuran antara pasukan Al-Husain dan pasukan Yazid bin Mu’awiyah yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad yang terjadi pada hari ke-10 Muharram 61H/681 di Karbala. Pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Yazid yang berjumlah ribuan melawan Al-Husain yang ber-jumlah 72 orang yang lebih banyak perempuan. Akibat dari pertempuran itu, Al-Husain dan seluruh pengikutnya meninggal. Kepala Al-Husain cucu Rasul Saw yang mulia ini dipenggal oleh seorang prajurit Yazid bernama Syamr bin Dziljausyan. Inilah peristiwa sejarah Islam yang paling menyayat hati kaum Muslimin. Bermula dari meninggalnya Muawiyah (15 Rajab 60H/679) dan awal mula pemerintahan Yazid dan berakhir dengan dipulangkannya para tawanan Karbala ke Madinah. Ketika itu hakim Madinah bersikeras mengambil baiat dari Imam Al-Husain untuk Yazid. Namun, Al-Husain menolak memberikan baiat dengan beberapa alasan bahwa khalifah yang sah saat itu adalah kakaknya Al-Hasan bin Ali sebagai Khalifah yang ke-5 setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib. Terpilihnya Al-Hasan sebagai khalifah ke-5 secara sah oleh kaum Muslimin menunjukkan bahwa beliau adalah pelanjut Khalifah Rasyidah. Alasan lainnya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan adalah pemberontak sesuai dengan sabda Rasul kepada sahabatnya Ammar bin Yasir: Ya Ammar, sataqtuluka fiatun baghiyah (Wahai Ammar, engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak). Riwayat ini sahih dan dianggap sebagai mutawatir. Diketahui bahwa dalam Perang Shiffin, Ammar bin Yasir berada pada barisan Ali bin Abi Thalib. Ketika Ammar terbunuh oleh pasukan Muawiyah, salah seorang pasukannya mengingatkan Muawiyah tentang hadis Rasul Saw bahwa yang membunuh Ammar adalah fiatun baghiyah (kelompok pemberontak). Muawiyah membantah dan mengatakan bahwa yang membunuh Ammar bin Yasir adalah orang yang mengirimnya ke Medan perang yaitu Ali. Kemudian Ali membantah dengan mengatakan, jika yang membunuh Ammar adalah orang yang mengirimnya ke medan perang, maka berarti yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib (paman Nabi Saw) adalah Nabi Saw sendiri karena Nabi Saw yang mengirim Hamzah ke medan perang. Dan bahkan semua syuhada Badar dan Uhud yang membunuh mereka adalah Nabi Saw, karena Nabi Saw yang mengirim mereka semua ke medan tempur. Hal ini di ungkapkan Imam Ali untuk membuktikan kerancuan logika berpikir Muawiyah. Al-Husain menolak Muawiyah karena banyak membunuh sahabat Nabi Saw diantaranya Hujr bin Adi yang membuat Aisyah marah besar kepada Muawiyah dan bahkan mengusir nya ketika hendak mengunjunginya. Tercatat dalam sejarah, Muawiyah menghabisi sahabat Nabi lainnya yang bernama Abdurrahman bin Udais Al-Balawi yang dikenal sebagai Ashabus Syajarah yakni sahabat-sahabat yang membai’at Nabi Saw dibawah pohon pada peristiwa Bai’atur Ridwan yang di puji langsung oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an. Itulah ketegasan Al-Husain. Al-Husain sendiri syahid di Karbala, Iraq dengan 33 luka tusukan dan 34 luka sayatan. Kepala beliau ditancapkan diujung tombak dan diarak sampai ke Damaskus. Yang bertanggungjawab atas pembunuhan Al-Husain adalah Yazid, Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa’ad, dan seluruh pasukan Ibnu Ziyad serta penduduk Kufah yang mengkhianati Al-Husain. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa yang memenggal kepala Al-Husain adalah Syimr bin Dzil Jausyan yang berada dikubu Yazid. Kemudian Umar bin Sa'ad pimpinan pasukan perang bersama dengan pasukannya juga menginjak-injak jasad para syuhada dengan kaki-kaki kuda mereka. Sore hari Asyura, pasukan Yazid menyerang kemah-kemah orang-orang yang ditinggalkan pasukan Al-Husain dan membakarnya dan menancapkan kepala-kepala para syuhada diujung tombak, dan bersama para tawanan di bawa kepada Ubaidillah bin Ziyad di Kufah dan dari sana di bawa ke hadapan Yazid bin Muawiyah termasuk kepala cucu Rasul Saw Al-Husain. Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari mencerita kan bagaimana penghinaan luar biasa terhadap penghulu pemuda surga itu. Anas bin Mâlik, mengatakan bahwa kepala Al-Husain dibawa kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd, lalu itu ditaruh dibejana. Kemudian ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk dengan pedangnya seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Al-Husain. Anas juga mengatakan bahwa diantara ahlul bait, Al-Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasul Saw. Saat itu, Al-Husain disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam). (HR. al-Bukhari). Persitiwa karbala ini terjadi pada 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari 'Asyura. Berabad-abad spirit Karbala menginspirasi kaum Syi'ah. Bahkan menjadi ideologi dendam yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap 10 Muharram, Syi'ah memperingati peristiwa Karbala. Ada kelompok Syi'ah berlebihan dalam mengekspresikan kesedihan atas terbunuhnya Al-Husain dengan melukai diri sendiri, seperti yang terjadi di negara-negara mayoritas penganut Syi'ah. Kelompok Syiah Rafidhah lebih ekstrem lagi, mereka mencaci maki sahabat Nabi Saw, khususnya Abu Bakar, Umar, Usman. Bahkan ada yang mengkafirkan sahabat Nabi Saw karena dianggap telah merampas kedudukan khalifah dari tangan Ali bin Abi Thalib. Peristiwa karbala adalah catatan hitam dan paling pahit dalam sejarah Islam. Sejarah ini harus diungkap dan tak perlu ditutupi dan jangan menuduh Syiah bagi yang mengungkap sejarah tersebut. Al-Husain bukan hanya milik Syi'ah, dan Karbala juga bukan medan kesedihan hanya bagi kaum Syi'ah. Siapa pun yang mengaku sebagai umat Nabi Saw pasti tersayat hatinya menyaksikan pembantaian terhadap ahlul bait Nabi Saw dipadang Karbala. Yang tak bersedih atas pembantaian Al-Husain maka dipastikan dia munafik, demikian ungkapan para ulama. Namun, kesedihan itu tidak harus diungkapkan dengan melukai diri sendiri dan mengutuk dan melaknat, karena Rasul Saw yang mulia melarang mengungkapkan kesedihan secara berlebihan. Juga bukan dengan mewariskan dendam secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Dan keliru pula jika Bani Umayah dianggap sebagai representasi Sunni. Peristiwa Karbala telah berlalu jauh sebelum lahirnya generasi kita hari ini. Tetapi haruskah permusuhan itu terus diwariskan hingga kini? Sejarah mengajarkan kepada kita bagaimana persoalan politik telah membawa umat ini pada perpecahan dan perang saudara berkepanjangan. Ironisnya, peperangan itu semua diatasnamakan agama. Persoalan politik yang terjadi pada akhir masa khulafaurrsyidin diseret menjadi peritikaian agama. Pembunuhan Usman, pertikaian Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, dan pembantain Al-Husain di Karbala, sebabnya adalah persoalan politik kekuasaan. Namun, pendukung masing-masing pihak menyeretnya pada persoalan akidah, akhirnya melahirkan sekte Syi'ah dan Khawarij. Syi'ah ekstrem mengkafirkan khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman karena berkeyakinan bahwa kepemimpinan kaum Muslimin diwaris kan kepada Ali dan keturunannya. Sebaliknya kaum Khawarij berkeyakinan semua yang terlibat dalam tahkim, baik dari pihak Ali maupun Muawiyah seluruhnya telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah. Fenomena takfir (mengkafirkan), sesat menyesatkan terus menjadi marak sampai saat ini. Vonis takfir menjadi legitimasi untuk memerangi kelompok yang berseberangan. Fenomena ini terus berlangsung sampai hari ini. Menyikapi persoalan yang terjadi diantara para sahabat, para ulama sunni mengambil jalan tengah, Bahwa pertikaian yang terjadi antara para sahabat adalah persoalan politik, bukan persoalan akidah. Pertikaian tersebut adalah ijtihad masing-masing sahabat. Para ulama sunni lebiih memilih menahan diri untuk tidak menilai atas perselisihan para sahabat. Para ulama sunni menyatakan pemerintahan yang mendapat legitimasi mayoritas kaum Muslimin adalah sah meskipun zalim. Dan bughot serta menciptakan huru hara politik untuk merongrong pemerintah yang sah hukumnya adalah haram. Karena dalam setiap revolusi berpotensi menimbulkan korban rakyat kaum Muslimin yang tak bersalah. Persoalan politik yang dibalut dengan agama, dinegeri kita saat ini sedang terjadi. Kita ingat Pilgub DKI Jakarta, hanya karena menolak Cagub Non-Muslim muncul "fatwa" haram shalat jenazah seorang Muslim. Selanjutnya Aksi-aksi demonstrasi selalu di atasnamakan agama, bela agama, bela ulama. Dulu, untuk merongrong pemerintahan yang sah, Syi'ah menggunakan isu terkait pembantaian Karbala, sedangkan Khawarij mengguna kan isu tahkim yang tidak berlandaskan al-Qur'an dan sunnah. Kini, gerombolan penjual agama itu menggunakan isu PKI yang anti-Islam. Polanya sama, meski zamannya berbeda. Pada ujungnya dari semua aksi yang berjilid-jilid itu yang diatas namakan agama, bela Islam, dan bela ulama itu mengerucut pada mendukung seseorang pada kontestasi politik. Begitu murahnya agama dijual hanya untuk mendukung seseorang dalam kontestasi politik. Jika ini politisasi agama terus di lanjutkan maka bukan tak mungkin umat ini akan terseret pada perang saudara. Ancamannya tentu pada retaknya NKRI. Cukuplah negara-negara Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak sebagai pelajaran bahayanya konflik politik yang dibalut dengan agama. Menutup tulisan ini, pada akhirnya, Asyura adalah momentum introspeksi dan evaluasi diri, bahwa tidak boleh merasa benar sendiri, merasa agamis sendiri, merasa suci sendiri sementara orang lain dianggap sebagai musuh. Hindari saling mencaci maki, memfitnah, menyebarkan kebohongan dan jadikan hari Asyura sebagai momentum untuk tidak meng kafirkan, dan menyesatkan hanya karena perbedaan pandangan politik. Salam NKRI…!*** Penulis adalah Rahman, M.Ag, Mahasiswa Program Doktor Kajian Hadis UIN Alauddin Makassar dan Dosen UIN Suska Riau


PERISTIWA Karbala yang kemudian menimbulkan tragedi Asyura berawal dari pertempuran antara pasukan Al-Husain dan pasukan Yazid bin Mu’awiyah yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad yang terjadi pada hari ke-10 Muharram 61H/681 di Karbala. Pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Yazid yang berjumlah ribuan melawan Al-Husain yang ber-jumlah 72 orang yang lebih banyak perempuan. Akibat dari pertempuran itu, Al-Husain dan seluruh pengikutnya meninggal. Kepala Al-Husain cucu Rasul Saw yang mulia ini dipenggal oleh seorang prajurit Yazid bernama Syamr bin Dziljausyan. Inilah peristiwa sejarah Islam yang paling menyayat hati kaum Muslimin.

Bermula dari meninggalnya Muawiyah (15 Rajab 60H/679) dan awal mula pemerintahan Yazid dan berakhir dengan dipulangkannya para tawanan Karbala ke Madinah. Ketika itu hakim Madinah bersikeras mengambil baiat dari Imam Al-Husain untuk Yazid. Namun, Al-Husain menolak memberikan baiat dengan beberapa alasan bahwa khalifah yang sah saat itu adalah kakaknya Al-Hasan bin Ali sebagai Khalifah yang ke-5 setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib.

Terpilihnya Al-Hasan sebagai khalifah ke-5 secara sah oleh kaum Muslimin menunjukkan bahwa beliau adalah pelanjut Khalifah Rasyidah. Alasan lainnya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan adalah pemberontak sesuai dengan sabda Rasul kepada sahabatnya Ammar bin Yasir: Ya Ammar, sataqtuluka fiatun baghiyah (Wahai Ammar, engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak). Riwayat ini sahih dan dianggap sebagai mutawatir.

Diketahui bahwa dalam Perang Shiffin, Ammar bin Yasir berada pada barisan Ali bin Abi Thalib. Ketika Ammar terbunuh oleh pasukan Muawiyah, salah seorang pasukannya mengingatkan Muawiyah tentang hadis Rasul Saw bahwa yang membunuh Ammar adalah fiatun baghiyah (kelompok pemberontak). Muawiyah membantah dan mengatakan bahwa yang membunuh Ammar bin Yasir adalah orang yang mengirimnya ke Medan perang yaitu Ali. Kemudian Ali membantah dengan mengatakan, jika yang membunuh Ammar adalah orang yang mengirimnya ke medan perang, maka berarti yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib (paman Nabi Saw) adalah Nabi Saw sendiri karena Nabi Saw yang mengirim Hamzah ke medan perang. Dan bahkan semua syuhada Badar dan Uhud yang membunuh mereka adalah Nabi Saw, karena Nabi Saw yang mengirim mereka semua ke medan tempur. Hal ini di ungkapkan Imam Ali untuk membuktikan kerancuan logika berpikir Muawiyah.

Al-Husain menolak Muawiyah karena banyak membunuh sahabat Nabi Saw diantaranya Hujr bin Adi yang membuat Aisyah marah besar kepada Muawiyah dan bahkan mengusir nya ketika hendak mengunjunginya. Tercatat dalam sejarah, Muawiyah menghabisi sahabat Nabi lainnya yang bernama Abdurrahman bin Udais Al-Balawi yang dikenal sebagai Ashabus Syajarah yakni sahabat-sahabat yang membai’at Nabi Saw dibawah pohon pada peristiwa Bai’atur Ridwan yang di puji langsung oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an.

Itulah ketegasan Al-Husain. Al-Husain sendiri syahid di Karbala, Iraq dengan 33 luka tusukan dan 34 luka sayatan. Kepala beliau ditancapkan diujung tombak dan diarak sampai ke Damaskus. Yang bertanggungjawab atas pembunuhan Al-Husain adalah Yazid, Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa’ad, dan seluruh pasukan Ibnu Ziyad serta penduduk Kufah yang mengkhianati Al-Husain. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa yang memenggal kepala Al-Husain adalah Syimr bin Dzil Jausyan yang berada dikubu Yazid. Kemudian Umar bin Sa'ad pimpinan pasukan perang bersama dengan pasukannya juga menginjak-injak jasad para syuhada dengan kaki-kaki kuda mereka. Sore hari Asyura, pasukan Yazid menyerang kemah-kemah orang-orang yang ditinggalkan pasukan Al-Husain dan membakarnya dan menancapkan kepala-kepala para syuhada diujung tombak, dan bersama para tawanan di bawa kepada Ubaidillah bin Ziyad di Kufah dan dari sana di bawa ke hadapan Yazid bin Muawiyah termasuk kepala cucu Rasul Saw Al-Husain.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari mencerita kan bagaimana penghinaan luar biasa terhadap penghulu pemuda surga itu. Anas bin Mâlik, mengatakan bahwa kepala Al-Husain dibawa kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd, lalu itu ditaruh dibejana. Kemudian ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk dengan pedangnya seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Al-Husain. Anas juga mengatakan bahwa diantara ahlul bait, Al-Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasul Saw. Saat itu, Al-Husain disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam). (HR. al-Bukhari).

Persitiwa karbala ini terjadi pada 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari 'Asyura. Berabad-abad spirit Karbala menginspirasi kaum Syi'ah. Bahkan menjadi ideologi dendam yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap 10 Muharram, Syi'ah memperingati peristiwa Karbala. Ada kelompok Syi'ah berlebihan dalam mengekspresikan kesedihan atas terbunuhnya Al-Husain dengan melukai diri sendiri, seperti yang terjadi di negara-negara mayoritas penganut Syi'ah. Kelompok Syiah Rafidhah lebih ekstrem lagi, mereka mencaci maki sahabat Nabi Saw, khususnya Abu Bakar, Umar, Usman. Bahkan ada yang mengkafirkan sahabat Nabi Saw karena dianggap telah merampas kedudukan khalifah dari tangan Ali bin Abi Thalib.

Peristiwa karbala adalah catatan hitam dan paling pahit dalam sejarah Islam. Sejarah ini harus diungkap dan tak perlu ditutupi dan jangan menuduh Syiah bagi yang mengungkap sejarah tersebut. Al-Husain bukan hanya milik Syi'ah, dan Karbala juga bukan medan kesedihan hanya bagi kaum Syi'ah. Siapa pun yang mengaku sebagai umat Nabi Saw pasti tersayat hatinya menyaksikan pembantaian terhadap ahlul bait Nabi Saw dipadang Karbala. Yang tak bersedih atas pembantaian Al-Husain maka dipastikan dia munafik, demikian ungkapan para ulama. Namun, kesedihan itu tidak harus diungkapkan dengan melukai diri sendiri dan mengutuk dan melaknat, karena Rasul Saw yang mulia melarang mengungkapkan kesedihan secara berlebihan. Juga bukan dengan mewariskan dendam secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Dan keliru pula jika Bani Umayah dianggap sebagai representasi Sunni. Peristiwa Karbala telah berlalu jauh sebelum lahirnya generasi kita hari ini. Tetapi haruskah permusuhan itu terus diwariskan hingga kini?

Sejarah mengajarkan kepada kita bagaimana persoalan politik telah membawa umat ini pada perpecahan dan perang saudara berkepanjangan. Ironisnya, peperangan itu semua diatasnamakan agama. Persoalan politik yang terjadi pada akhir masa khulafaurrsyidin diseret menjadi peritikaian agama. Pembunuhan Usman, pertikaian Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, dan pembantain Al-Husain di Karbala, sebabnya adalah persoalan politik kekuasaan. Namun, pendukung masing-masing pihak menyeretnya pada persoalan akidah, akhirnya melahirkan sekte Syi'ah dan Khawarij. Syi'ah ekstrem mengkafirkan khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman karena berkeyakinan bahwa kepemimpinan kaum Muslimin diwaris kan kepada Ali dan keturunannya. Sebaliknya kaum Khawarij berkeyakinan semua yang terlibat dalam tahkim, baik dari pihak Ali maupun Muawiyah seluruhnya telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah.

Fenomena takfir (mengkafirkan), sesat menyesatkan terus menjadi marak sampai saat ini. Vonis takfir menjadi legitimasi untuk memerangi kelompok yang berseberangan. Fenomena ini terus berlangsung sampai hari ini. Menyikapi persoalan yang terjadi diantara para sahabat, para ulama sunni mengambil jalan tengah, Bahwa pertikaian yang terjadi antara para sahabat adalah persoalan politik, bukan persoalan akidah. Pertikaian tersebut adalah ijtihad masing-masing sahabat. Para ulama sunni lebiih memilih menahan diri untuk tidak menilai atas perselisihan para sahabat. Para ulama sunni menyatakan pemerintahan yang mendapat legitimasi mayoritas kaum Muslimin adalah sah meskipun zalim. Dan bughot serta menciptakan huru hara politik untuk merongrong pemerintah yang sah hukumnya adalah haram.

Karena dalam setiap revolusi berpotensi menimbulkan korban rakyat kaum Muslimin yang tak bersalah. Persoalan politik yang dibalut dengan agama, dinegeri kita saat ini sedang terjadi. Kita ingat Pilgub DKI Jakarta, hanya karena menolak Cagub Non-Muslim muncul "fatwa" haram shalat jenazah seorang Muslim. Selanjutnya Aksi-aksi demonstrasi selalu di atasnamakan agama, bela agama, bela ulama. Dulu, untuk merongrong pemerintahan yang sah, Syi'ah menggunakan isu terkait pembantaian Karbala, sedangkan Khawarij mengguna kan isu tahkim yang tidak berlandaskan al-Qur'an dan sunnah.

Kini, gerombolan penjual agama itu menggunakan isu PKI yang anti-Islam. Polanya sama, meski zamannya berbeda. Pada ujungnya dari semua aksi yang berjilid-jilid itu yang diatas namakan agama, bela Islam, dan bela ulama itu mengerucut pada mendukung seseorang pada kontestasi politik. Begitu murahnya agama dijual hanya untuk mendukung seseorang dalam kontestasi politik. Jika ini politisasi agama terus di lanjutkan maka bukan tak mungkin umat ini akan terseret pada perang saudara. Ancamannya tentu pada retaknya NKRI.

Cukuplah negara-negara Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak sebagai pelajaran bahayanya konflik politik yang dibalut dengan agama. Menutup tulisan ini, pada akhirnya, Asyura adalah momentum introspeksi dan evaluasi diri, bahwa tidak boleh merasa benar sendiri, merasa agamis sendiri, merasa suci sendiri sementara orang lain dianggap sebagai musuh. Hindari saling mencaci maki, memfitnah, menyebarkan kebohongan dan jadikan hari Asyura sebagai momentum untuk tidak meng kafirkan, dan menyesatkan hanya karena perbedaan pandangan politik. Salam NKRI…!***

Penulis adalah Rahman, M.Ag, Mahasiswa Program Doktor Kajian Hadis UIN Alauddin Makassar dan Dosen UIN Suska Riau