Ilustrasi/Net

Spanyol telah menyusul Italia menjadi negara dengan tingkat infeksi paling tinggi di Eropa.

Perdana Menteri Pedro Sanchez pun telah meminta parlemen untuk memperpanjang pemberlakuan lockdown selama 15 hari ke depan hingga 26 April. Itu diungkapkan oleh Sanchez dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Sabtu (4/4). Sanchez mengatakan, tindakan locklown telah menunjukkan hasil di mana angka kasus baru dan kematian mulai melambat di Spanyol.

“Kami berada di awal penurunan epidemi. Kita lebih kuat dari yang kita kira, tetapi kita harus bertahan. Dengan pengorbanan, perlawanan, dan semangat kemenangan,”ujarnya. Namun, ia juga mengatakan, beberapa pembatasan ekonomi akan mulai dicabut setelah Paskah. Keluaci toko, bar, dan restoran akan tetap ditutup.

“Kami tidak akan memperpanjang kemandekan kegiatan ekonomi,” ungkapnya seperti yang dimuat Reuters. Selain itu, Sanchez juga meminta dukungan untuk peluncuran utang bersama yang dikeluarkan oleh anggota Uni Eropa. Ide ini sangat diperjuangkan oleh Spanyol dan Italia, tetapi ditolak oleh Jerman dan anggota Uni Eropa lainnya.

“Tidak ada yang salah, pemerintah Spanyol akan bekerja untuk mempertahankan dan tidak akan pernah meninggalkan eurobond karena ini adalah solidaritas. Ini adalah Eropa,” tegasnya.

Data dari Universitas Johns Hopkins pada Minggu (5/4) hingga berita ini dirilis, Spanyol memiliki jumlah infeksi sebanyak 126.168 kasus dengan 11.947 orang meninggal dunia dan 34.219 orang dinyatakan pulih.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here