Kematian Jamaluddin yang berprofesi Hakim di PN Medan yang diduga menjadi korban pembunuhan, menjadi perbincangan publik. Pengamat Politik Ikrimah Hamidy menyebut bahwa dirinya turut sedih atas peristiwa ini.

“Saya sudah baca beritanya dan dapat info juga sedikit tentang keseharian almarhum melalui teman pengacara. Saya ucapkan belasungkawa atas meninggalnya alarhumam Hakim Jamaluddin,” katanya kepada Kantor Berita Politik RMOLSumut, Sabtu (30/11).

Ikrimh menuturkan profesi hakim adalah profesi rentan mengalami tindakan kekerasan. Apalagi jika sang hakim adalah orang yang tidak bisa kompromi.

“Saya teringat kasus hakim agung yang dibunuh yaitu Syafiuddin Kartasasmita. Dalang pembunuhannya juga sudah diungkap. Sayangnya, nyawa sang hakim tidak mendapat balasan setimpal dari pembunuh dan dalangnya,” tuturnya.

Ditambahkannya, para pembunuh hanya dihukum beberapa tahun, bahkan mendapat remisi. Ikrimah menyebut ini berarti perlindungan terhadap hakim sangat lemah.

“Oleh karena itu, dari pada pihak kepolisian dikerahkan untuk memantau rumah ibadah, lebih baik pihak kepolisian ditugaskan melindungi hakim, baik ketika bertugas atau tidak,” tegasnya.

Ikrimah mendesak pihak kepolisian secepatnya menuntaskan kasus ini. Ia berharap pelaku atau dalangnya tidak lagi diperlakukan seperti kasus almarhum hakim agung terdahulu. Hukuman mati pantas diberikan kepada pelaku pembunuhan.

Sebelumnya, ditemukan mayat di dalam Mobil Land Cruiser Toyota Prado BK 77 HD di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang heboh pada Jumat (29/11) siang. Dari identitas, mayat tersebut bernama Jamaluddin, seorang Hakim. Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here