Juliana Irmayanti/RMOLSumut

Pakar Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi USU, Juliana Irmayanti M.Psi. mengatakan selain motif kebutuhan material, perilaku korupsi juga dapat dipicu aspek semacam kepuasan secara psikis. Korupsi itu perilakunya lebih kompleks tidak sekadar seperti pencurian biasa, sebab ada hal-hal perencanaan orang-orang yang terlibat.

“Jadi kalau korupsi itu tidak sama dengan kayak mencuri biasa.biasanya orang-orang yang melakukan itu orang yang selain kebutuhan material ada semacam kepuasan tersendiri begitu,” ujarnya, Kamis (17/10).

Juliana menjelaskan kasus pencurian yang dilakukan orang secara umum motifnya adalah kebutuhan. Orang-orang mencuri ini merasa (menurut mereka) tidak ada jalan lain. Dalam teori behavioristik. Kalau seseorang melakukan sesuatu kemudian mendapat konsekuensi positif maka seseorang tersebut akan mengulang-ulangnya.sehingga lama kelamaan rasa bersalah itu hilang. Selama dia belum kepentok artinya belum mendapatkan funishmen maka perilaku negatifnya akan berulang terus menerus.

Beberapa pelaku kasus korupsi sudah mengetahui konsekuensinya hanya saja berpikir jika merencanakanya dengan cara cerdik,hal tersebut bisa jadi tidak ketahuan.

“makanya dia harus melibatkan beberpa pihak dalam tindakan perilaku negatifnya,” terangnya.

Pakar psikologi ini mengatakan tuntutan istri yang secara ekonomi ingin bermewah-mewah membuat pelaku korupsi melakukan tindakannya. Meskipun tidak semua pelaku korupsi.


“Tapi itu biasanya alasanya. Seolah bukan sepenuhnya karena salah dia, padahal pelakunya tetap dia,” tutupnya .

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here