BAGI banyak satuan pendidikan hasil PISA mungkin terlalu jauh untuk dibicarakan. Bahkan bisa jadi PISA itu apa juga kurang dipahami. Bagaimana ruang lingkup kerjanya sehingga muncul hasil yang dipublikasi yang merupakan potret pendidikan sebuah negara dibanding dengan negara lainnya.
PISA adalah singkatan dari Programme for International Student Assessment adalah program penilaian tingkat internasional yang diselenggarakan oleh OECD. OECD merupakan singkatan Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, yaitu organisasi internasional yang berpusat di Paris, Prancis, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan peningkatan standar hidup global. OECD PISA adalah program penilaian tingkat internasional yang mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam bidang membaca, matematika, dan sains.
Hasil PISA 2025 sudah dirilis pada 8 September 2026. Dan hasilnya menempatkan Indonesia pada posisi yang belum menggembirakan. Di kelompok negara ASEAN, Indonesia berada pada posisi keenam dari delapan negara. Sebuah siklus yang berulang setiap tiga tahun, angka-angka OECD segera diterjemahkan menjadi gambaran ketertinggalan, kegagalan, dan darurat. Namun, laporan soal Indonesia memunculkan gambaran lebih rumit daripada rapor merahnya. Berdasarkan hasil laporan OECD murid-murid Indonesia adalah pembelajar yang penasaran, tekun, dan percaya kepada guru, di atas rata-rata OECD. Namun, hasil belajarnya nyaris tak bergerak selama satu dekade. Pertanyaan besarnya kok bisa begitu.
Skor Indonesia untuk sains 389, Matematika 364, membaca 365, dan pemecahan masalah komputasional 427. Semuanya itu di bawah OECD. Dibandingkan dengan skor tahun 2022 tidak jauh berubah, sains 383, matematika 366, dan membaca 359.
Yang perlu menjadi refleksi bersama adalah sebanyak 80 persen murid mengaku penasaran pada banyak hal (OECD 73 persen), 74 persen menambah usaha ketika tugas sulit (OECD 60 persen), hanya 9 persen menganggap sekolah sia-sia (OECD 24 persen). Sebanyak 90 persen bertanya kepada guru saat kesulitan dan 92 persen kepada teman. Sebanyak 82 persen menilai guru memperhatikan pembelajaran setiap anak (OECD 69 persen) dan 85 persen menyatakan guru terus mengajar sampai paham (OECD 66 persen). Iklim disiplin kelas sains lebih baik dari OECD, sementara tingkat bolos 11 persen berbanding 22 persen OECD.
Kok bisa murid setekun itu dan guru sesuportif itu menghasilkan capaian serendah demikian? Persoalan tampaknya bukan pada motivasi atau relasi, melainkan mutu tugas kognitif. Murid rajin mengerjakan, guru rajin membimbing, tetapi banyak tugas berupa prosedur, hafalan, dan pengulangan. Ketekunan tanpa tantangan intelektual menghasilkan kepatuhan, bukan kompetensi.
Semua hal itu tentulah juga gambaran satuan pendidikan kita. Agar masalah tidak terus berulang ada baiknya melakukan beberapa hal. Pertama melakukan asesmen diagnostik awal tahun, pengelompokan berbasis kemampuan aktual, dan remedial literasinumerasi terstruktur. Kedua, perbaiki mutu tugas dan penilaian kelas. Guru memang telah hadir dan bersikap hangat di ruang kelas. Namun ini saja belum cukup. Perlu diperkuat kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalnya. Untuk itu investasinya bukan pelatihan daring berbasis sertifikat, melainkan pengembangan profesional berbasis sekolah, lesson study, KKG, MGMP, desiminasi praktik baik, dan pendampingan sejawat. Ketiga, pemanfaatan digital dan kecerdasan buatan (AI) yang bermakna. Satuan pendidikan perlu dilengkapi panduan penggunaan perangkat digital dan literasi AI agar anak menilai dan mengkritisi keluaran mesin, bukan sekadar menyalinnya.
PISA 2025 bukan pengadilan atas anak-anak, melainkan cermin keputusan orang dewasa. Modal terpenting dalam pendidikan berupa rasa ingin tahu, ketekunan, dan kepercayaan kepada guru harus terus dipelihara.
Refleksi utamanya kegagalan kita bersifat institusional. Memperbaikinya juga harus institusional. Banyak hal yang bisa dilakukan berangkat dari kesadaran bersama. Yang dibutuhkan pada satuan pendidikan adalah super team bukan super man.
Meskipun hasil PISA bisa jadi terlalu jauh untuk dibicarakan di satuan pendidikan kita, namun itu merupakan pars prototo pendidikan Indonesia. Mari kita berpikir global meskipun tindakannya lokal. Global Thinking, Local Action. Semoga.
Penulis merupakan Inisiator Komunitas Baca Kota Cerdas (KBKC) Binjai
