ADA banyak argumentasi yang disampaikan guru mengapa rencana pembelajarannya tidak ready for use ketika mengajar di kelas. Mulai dari argumentasi yang masuk akal hingga yang akal-akalan. Masih diedit dari tahun yang sebelumnya misalnya. Atau tertinggal di rumah. Padahal itu hanya jawaban komunikatif memberhentikan pertanyaan dari pertanyaan- pertanyaan lanjutan yang akan muncul berikutnya.
Sebaiknya alasan tersebut tidak berulang dari satu tahun ajaran ke tahun ajaran berikutnya. Harus segera dicari akar masalahnya. Tidak boleh berhenti pada jawaban komunikatif awal yang justru tidak membantu meningkatnya kompetensi guru. Kalau dibiarkan murid menjadi korban pembelajaran yang tidak terencana.
Persoalan di atas terabaikan dengan asumsi rencana pembelajaran yang tidak pernah siap hanya disebabkan kelalaian guru. Apakah memang benar demikian? Apakah tidak mungkin disebabkan ketidaktahuan atau bahkan kompetensi? Kalau masalahnya ada pada pertanyaan yang pertama, jawabannya hanyalah kekesalan. Tapi kalau persoalannya ada pada pertanyaan kedua, menjadi penting untuk ditelusuri dan dilakukan pendampingan.
Sebenarnya akan semakin tidak relevan jika hal ini terjadi pada guru yang telah bersertifikasi. Dalam bukunya yang berjudul Inspiring Teacher, Jamaluddin El-Banjary menuliskan bahwa makna praktis “guru profesional” sudah menjadi sangat kabur. Sudah terabrasi sedemikian rupa. Sudah mengalami distorsi. Banyak guru yang telah memiliki sertifikat pendidik bukti guru profesional tidak benar-benar mampu menunjukkan kinerjanya sebagaimana gelar terhormat yang disandangnya. Tidak mampu membuat rencana pembelajaran, misalnya. Kalau begitu, apanya yang profesional?
Ada baiknya mencermati ulang Permendikdasmen nomor 1 tahun 2026. Terutama pada Bab II dari pasal 4 sampai dengan pasal 8. Ini merupakan regulasi yang harus dikuasai guru dalam arti memiliki kompetensi dalam implementasi pasal-pasal tersebut. Sebenarnya ini tidak sulit. Sayangnya masih banyak yang tidak perduli sehingga profesionalitasnya menjadi patut diragukan.
Lain lagi fenomena rencana pembelajaran guru asal comot. Diambil dari internet seolah-olah itu rencana pembelajaran terbaik yang dibuat oleh para guru di Jakarta. Fenomena ini mengingatkan pada kisah yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Bagaimana orang Belitong membawa berpayah-payah sumbu kompor dari Jakarta, turun agak di tengah lautan karena kapal tak bisa sandar di dermaga. Seakan-akan tidak ada di Belitong dan sumbu kompor dari Jakarta lebih baik. Inferioritas yang tak berdasar.
Hendaknya sikap seperti itu tidak ada di satuan pendidikan kita. Inferioritas yang menggerogoti kreativitas dan profesionalitas. Kepala satuan pendidikan juga tidak serta merta membubuhkan tanda tangan di rencana pembelajaran guru. Lakukan kurasi, bila perlu pelatihan atau workshop. Sebab jika tidak, ini juga akan menggerogoti kredibilitas.
Penulis merupakan Kasek SDN 027688_15092026
