Foto/Ist

Di saat banyak dari warga sedang merayakan suka cita menyambut pergantian tahun. Di saat banyak pihak tengah mempersiapkan diri maju melaju ke arena kontestasi dan suksesi Pilkada, Agus Toha meregang nyawa.

Kesepian di dinginnya lantai emperan Alfamidi. Ditemani kardus dan barang rongsokan yang boleh jadi sedianya akan segera dia jual pada keesokan harinya.

Inilah potert kemiskinan di Ibu kota Sumatera Utara yang setiap detiknya terus mempercantik diri dengan bangunan-bangunan baru yang terus tumbuh.

Kematian adalah kewajaran. Mati dalam keadaan miskin adalah lebih wajar lagi. Penemuan jenasah Agus Toha di Jalan Darussalam, Medan, Rabu (1/1), bisa jadi bukan satu-satunya. Di hari yang sama, di saat yang sama.

Boleh jadi di saat bersamaan dengan pria yang diperkirakan berusia 55 tahun itu meregang nyawa, ada banyak juga yang meninggal karena kemiskinan.

Agus Toha, adalah bagian yang paling kecil, yang kematiannya bisa jadi tak perlu diributkan dan dibesar-besarkan.

Apalah arti kematian seseorang karena kemiskinan, disaat hiruk pikuk para balon walikota tengah sibuk menyusun segenap janji-janji pengentasan kemiskinan untuk ditebar di masa kampanye nanti?

Ya, bisa jadi kematian Agus Toha dan orang-orang sepertinya bukan berarti-apa-apa.

Sebab, tahun baru dan kemeriahannya hanyalah satu dari sekian cara bagi warga Medan menyalurkan kepenatan hidupnya. Setelah seharian dilabrak kemacetan, rezeki yang mampet, pungli, sampah yang menggunung, harapan dan espektasi yang tidak kesampaian serta sederet tetek bengek lainnya.

Kematian Agus Toha dan orang sepertinya bisa jadi bukan berarti apa-apa bagi anggota dewan yang tengah menanti jadwal pengesahan Ran-APBD. Bagi parpol yang tidak mengajarkan pendidikan politik kepada kadernya yang miskin kaderisasi dan bagi aktivis muda yang tengah megap-megap kekurangan oksigen dalam meniti karirnya menembus masa pra-kompetisi yang sarat dengan pra-syarat, bahwa popularitas dan elektabilitas bisa diatur dengan isi tas.

Tak banyak tempat di halaman koran untuk menampung pemberitaan kematian Agus Toha dan orang-orang sepertinya yang mati di halaman orang.

Ada yang lebih penting dari kematian karena kemiskinan. Kematian karena kemiskinan sudah bukan berita lagi, sehingga tak perlu diberitakan. Kalaupun ada, ya sekadar saja. Toh, potret kemiskinan bukanlah karya seni yang patut dipertontonkan dalam galeri pameran.

Saking dekatnya kemiskinan dan produk jurnalistik, sehingga pembaca tak bisa membedakan, mana Agus Toha, mana wartawan yang memberitakannya.

-Salam Hujan Tarigan, dari rindang asam Binjai-

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here