Evi Novida Ginting/Net

Komisioner KPU Gunung Sitoli, Happy Suryani Harefa adalah satu nama yang berani berpendapat terbuka soal pemecatan arogan DKPP terhadap Komisioner KPU RI Evi Novida Ginting.

Saya tidak mengenalnya. Pun baru tahu sedikit terkait dirinya dari mesin pencarian google, itupun karena penasaran.

Tapi dibalik protesnya pada putusan DKPP dan keyakinannya pada integritas pimpinannya Evi Novida Ginting.

Ia memang layak mendapat julukan “The Rising Nias Utara”, sebagaimana sebutan salah satu media lokal dalam mendeskripsikannya.

Dampak protesnya terhadap putusan pada Evi Novida Ginting, Happy Suryani akhirnya dilaporkan salah seorang ASN yang juga ketua salah satu organisasi kepemudaan ke DKPP.

Salah satu pokok aduan orang tersebut, terkait sikap Happy Suryani disebutkan : “Menyampaikan informasi yang berpotensi provokatif bahwa Presiden RI memecat Komisioner KPU Evi Novida yang baru pertama dalam sejarah dan seakan-akan dipecat karena yang bersangkutan perempuan”

Singkatnya, melalui putusan No 61-PKE-DKPP/VI/2020 tanggal 29 Juli 2020, DKPP akhirnya : Menjatuhkan sanksi peringatan keras teradu Happy Suryani Harefa selaku Anggota KPU gunung Sitoli sejak putusan ini dibacakan.

Anggap saja, aduan terhadap Happy Suryani benar. Bahwa ia protes dengan objek bahwa karena yang dipecat adalah perempuan. Anggap saja begitu dan semua yang dituduhkan padanya benar.

Tapi dibalik itu semua, jejak digital juga ramai dan penuh dengan kata kunci “Happy Suryani Harefa” bahwa dirinya adalah aktivis perempuan.

Isu gender dan perempuan, disebutkan sudah lama digeluti dan diperjuangkannya. Itu pula yang menjadi DNA perjuangnya selama ini.

Itu belum termasuk pada keyakinannya bahwa pemecatan terhadap Evi Novida adalah cacat hukum. Happy Suryani bahkan benar disini, karena gugatan Evi Novida Ginting menangkan seluruhnya, bukan setengah atau sebagian saja.

Artinya kemampuan Happy Suryani membaca teks hukum melampaui sensitifitasnya terhadap dirinya yang sesama perempuan dengan Evi Novida. Alasannya jelas, putusan PTUN mengatakan Evi Novida tidak bersalah.

Publik pula yang menilai bagaimana Happy Suryani bersikap. Karena apa yang terjadi pada Evi Novida, bisa terjadi pada siapapun dalam penyelengara pemilihan, termasuk dirinya yang merupakan Komisioner KPU Gunung Sitoli sehingga ia protes.

Happy Suryani telah menunjukkan keberpihakannya.Happy Suryani telah menunjukkan keberaniannya, dimana pada saat yang sama, bahkan banyak komisioner KPU di daerah diam dan bersembunyi atas putusan ini ia justru bersuara. Meski tahu Evi Novida tidak bersalah.

Walaupun ia tahu persis, bahwa bersamaan dengan protesnya itu, bisa saja ia dipecat DKPP dari Komisioner KPU.

Tapi ia tidak peduli itu, karena keyakinannya akan kebenaran melampaui resikonya kehilangan jabatan di KPU Gunung Sitoli.

Saran saya, KPU RI layak mengapresiasi Happy Suryani. Karena ia teguh konsisten menjaga marwah KPU sebagai lembaga penyelenggara.

Soal relasi KPU dengan DKPP dengan putusan padanya. Sangat jelas ini soal relasi kelembagaan.

Tapi pendapat saya, Happy Suryani layak mendapatkan pesan moral dan mengatakan : bahwa ia perempuan petarung.

Melihat keberanian Happy Suryani, jadi ingat challenge yang lagi viral di instagram sekarang “Women Supporting Women” –Perempuan Dukung Perempuan.

Meski tak sama, tapi tagline tersebut sedang banyak diperbincangkan dan diunggah sebagai dampak dari video pelecehan di Gedung Kongres AS.

Saat itu, anggota Kongres perempuan yang bernama Alexandrua Ocasio-Cortez mengalami tindakan pelecehan dan seksis dari anggota yang lain bernama Ted Yoho.

Sekali lagi meski tidak sama, tapi secara perjuangan, demi sebuah kebenaran, perempuan mendukung perempuan itu satu titik kekuatan sosial yang sangat keren.

Saya mengapresiasi keberanian Happy Suryani..

Penulis adalah Anwar Saragih, akademisi FISIP USU

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here