Zulkifli Hasan alias Zulhas terpilih kembali menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2020-2025. Hal ini sesuai prediksi Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing yang dimuat di berbagai media.

“Sebagaimana saya prediksi sehari sebelumnya yang dimuat di beberapa media massa online terkemuka di tanah air,” katanya kepada Kantor Berita RMOLSumut.

Emrus mengatakan, pasca kemenangan Zulhas tersebut, sangat menarik membaca peta politik di internal PAN dan dinamika politik nasional.

“Pada politik internal di PAN, pasca kemenangan Zulhas, suhu politik di Kongres PAN V hampir dapat pastikan akan menurun drastis. Para faksi dan aktor politik akan melakukan komunikasi politik yang sejuk dalam rangka berbagi peran dalam struktur kepegurusan partai,” paparnya.

Menurut Emrus, sebab sebagai aktor politik, mereka tidak lepas dari keinginan “berkuasa” di internal partai. Karena itu, lanjut Emrus, banyak pihak akan mencoba mendekatkan diri dengan Zulhas sebagai Ketum terpilih.

“Sementara Zulhas akan berusaha semaksimal mungkin menempatkan anggota atau kader partai di struktur organisasi partai yang dapat menjabarkan dan menjalankan kepetingan politik Zulhas yang dipadukan dengan perjuangan politik PAN sebagai partai politik yang berkompetisi dengan partai lain dalam suatu kontestasi politik,” ujarnya.

Emrus mengatakan fenomena politik nasional pasca keterpilihan Zulhas pada periode kedua ini membuat dinamika politik di eksternal PAN (nasional) akan berpotensi mengulang sejarah.

“Pada Pilpres 2014 yang lalu, PAN tidak berada di kubu Jokowi-JK, tetapi pengusung Prabowo-Hattarajasa. Namun setelah kemenangan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden, PAN berputar arah menjadi pendukung Jokowi-JK yang berujung mendapat kursi di kabinet setelah reshuffle,” paparnya.

Lanjut Emrus, di bawah kepemimpinan Zulhas di PAN pada periode kedua ini, sangat terbuka lebar PAN akan menjadi bagian pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin. Menurut Emrus, tentu konsekuensi logis politik, PAN bepeluang lagi mendapat kursi di kabinet Jokowi-Maruf Amin.

“Penempatan kader PAN di kabinet, Jokowi tidak harus melakukan reshuffle kabinet. Masih ada jabatan baru kementerian yang sangat dibutuhkan di negeri ini, yang belum ada sampai sekarang yaitu Kementerian Inspektorat Kementerian dan Lembaga Pemerintah yang tugas utamanya melakukan pengawasan secara ketat dan tindakan pencegahan korupsi di semua instansi pemerintah,” katanya.

“Jadi, semua inspektorat yang ada di kementetian disatukan dalam suatu kementerian. Jabatan menteri ini sangat pantas diberikan kepada Zulhas karena pernah menjadi anggota kabinet dan Ketua MPR-RI. Pengalaman ini sangat mumpuni melakukan perencanaan dan eksekusi pengawasan serta pencegahan korupsi di seluruh instansi pemerintah, mulai dari pusat hingga ke desa-desa,” demikian Emrus.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here